• Home
  • Music
  • Work & Values
  • MarComm & Branding
  • Travel
  • Books

Blog Penny Hutabarat

balairung UI

Lilin-Lilin Kecil (The Little Candles)

01.18
Satu minggu yang lalu, Jumat 28 Agustus 2015,  saya kembali dipercayakan untuk menyanyi (solo) dalam seremoni Wisuda Universitas Indonesia. Kesempatan untuk menyanyi di panggung #BalairungUI pada acara #WisudaUI, bagi saya adalah moment untuk berbagi semangat dan inspirasi dengan wisudawan dan mahasiswa baru yang hadir di acara itu. Khususnya berbagi semangat dan inspirasi lewat lagu. 

Sebuah lagu memiliki jiwa (soul) yang diterjemahkan lewat lirik lagu yang kita nyanyikan dan melodi yang kita lantunkan. Sebuah lagu mampu menggetarkan nurani, ketika datangnya dari hati. 


Pada kesempatan ini, saya membawakan sebuah lagu 'Lilin-lilin Kecil'. Lagu ini memiliki arti/ makna yang dalam. Meski lagu ini tergolong lagu lama, namun termasuk lagu yang everlasting karena banyak orang - baik tua/ muda, anak-anak/ dewasa - mengenali lagu itu terutama pada penggalan  Reffrain nya : 

"Dan kau lilin-lilin kecil, sanggupkah kau mengganti.
Sanggupkah kau memberi seberkas cahaya. 
Dan kau lilin-lilin kecil, sanggupkah kau berpijar. 
Sanggupkah kau menyengat seisi dunia" 


Makna filosofi lagu Lilin-Lilin Kecil : 
Sanggupkah kita para generasi penerus/ para pemuda untuk meneruskan dan menggantikan para pendahulu kita. Dan tetap menyalakan cahaya, bahkan di tengah kegelapan sekalipun. 

==

Saat akan menyanyikannya, yang ada dalam pikiran saya adalah bahwa  arti lagu ini perlu tersampaikan pada audience. 'Lilin-Lilin Kecil' adalah diri kita, yang kelak meneruskan terang dan cahaya dari orang-orang tua kita. Mampukah dan sanggupkah kita mengganti, dan terus membawa terang bahkan di tengah kegelapan. 


Moment ini menjadi indah dan menggetarkan ketika ribuan audience (mahasiswa baru, wisudawan, guru besar dan tamu-tamu) secara spontan menyalakan flash light dari telepon genggam mereka. Lalu melambaikan flash light handphone mengikuti irama lagu. 
Saya tergetar saat mereka merespon lagu itu dengan pemandangan flash light yang begitu indah di gedung Balairung yang dipenuhi puluhan ribu orang ini. Dan sesaat, terlihat seperti ribuan lilin-lilin kecil yang dinyalakan, mengiringi lagu ini. Audience pun turut menyanyikan Reffrain lagu dan menemani saya memeriahkan seremoni #WisudaUI #BalairungUI. 



Video ini adalah kiriman dari mas Arie Soesilo, dan direkam dengan handphone oleh seorang anggota Dewan Guru Besar. Video lengkap dari moment ini tersedia di : https://www.youtube.com/watch?v=m0vB8cUEBxg 

Tanggal 30 Agustus, saya menghubungi om James F. Sundah via whatsapp. Saat ini beliau tinggal dan berkarir di New York bersama keluarganya. Saya menceritakan pada guru/ mentor saya ini, bahwa lagu ciptaannya saya nyanyikan dan betapa banyak orang mengenali lagunya. Dia pun membalas whatsapp itu : 'Terimakasih Pen, sudah membawakan Lilin-Lilin Kecil di moment besar itu. Saya terharu". 

Selama 13 tahun saya menyanyi solo dalam seremoni Wisuda UI, ini adalah untuk pertama kalinya ribuan flash light dilambaikan bersama nyanyian 'Lilin-Lilin Kecil'. Dulu, pernah di saat moment saya membawakan lagu 'Bunda', ribuan audience melambaikan tangannya seperti membentuk gelombang 'ombak tangan' :). Saya tergetar setiap kali audience merespon nyanyian secara spontan dengan indahnya. 





==



Flashback 
Lagu 'Lilin-Lilin Kecil' diciptakan oleh James.F.Sundah, seorang composer legendaris Indonesia. Lagu ini pertama kali diperkenalkan dalam Lomba Cipta Lagu Remaja thn 1977 (di tahun ini saya belum lahir tentunya hehe...). Dan semakin dikenal sejak lagu ini dibawakan oleh Chrisye. 

Lagu 'Lilin-Lilin Kecil' sebenarnya memiliki makna yang dalam. Di tahun 1997, saat saya masih kelas 6 SD atau mungkin kelas 1 SMP, saya mengikuti Jakarta Music Festival yang diselenggarakan oleh James F. Sundah. Lagu yang saya bawakan saat itu adalah 'Lilin-Lilin Kecil'. Awal mengenali lagu itu di thn 1997, sulit bagi saya memahami arti liriknya. Hingga akhirnya saya dilatih oleh om Yonas Pareira (seorang composer dan pelatih vocal) dan diberikan wawasan tentang arti lagu itu. Setelah berhasil menjuarai festival itu, saya pun banyak dilibatkan oleh om James F Sundah untuk mengikuti sessi rekaman (recording) dan menyanyi di berbagai festival. Saya  bersyukur mendapatkan kesempatan dan pengalaman dilatih tentang musik oleh beliau. 

Hingga kemudian di tahun 2012, saya mendapat kesempatan duduk bersama-sama sebagai Juri dengan om james (mentor saya) pada sebuah Festival menyanyi tingkat nasional. Hati saya mengucap syukur untuk setiap kesempatan yang Tuhan anugerahkan. 

Dan di Agustus 2015 kemarin, berkesempatan membawakan sebuah karya dari om James F Sundah, yakni 'Lilin-LIlin Kecil' di hadapan ribuan audience pada acara Wisuda Universitas Indonesia.  


==

Semoga kita dapat terus menjadi 'Lilin-Lilin Kecil' (The Little Candles) dimanapun kita berada. Menerangi sekeliling kita dengan seberkas cahaya dan memberi arti dalam perjalanan hidup orang lain. 

Keep shining, even if we are little candles!


balairung UI

Confidently raise my hand

01.44
Saya jadi teringat, saat pertama kali saya memasuki dunia baru yaitu dunia kampus dan perkuliahan pada tahun 2002. Di awal masa orientasi, seluruh mahasiswa di UI wajib untuk mengikuti latihan Paduan Suara Mahasiswa Baru yang dipimpin oleh Pak Dibyo di Balairung.

Saat berlatih Paduan suara mahasiswa baru itu, saya tidak pernah benar-benar serius berlatih.
Saya hanya termenung, melamun.....membayangkan bisa bernyanyi di Gedung Balairung yang begitu besar itu. Mungkin luasnya hampir setengah dari stadion gelora Bung Karno...entah berapa besar luasnya..yang pasti itu tempat yang besar bagi saya saat membayangkan bisa bernyanyi di tengah-tengah panggung di tempat itu.
Balairung UI
Yang saya bayangkan saat itu adalah "muncul dari tengah balkon seperti Ruth Sahanaya yang bernyanyi di acara PON beberapa waktu lalu 
(yang saya pernah saksikan di televisi).

Tiba-tiba saja di tengah lamunan itu, saya mendengar sang Conductor, Pa Dibyo berbicara di Microfon nya dengan suara lantang dan menanyakan "adakah diantara mahasiswa baru disini yang seorang penyanyi atau senang bernyanyi".
And guest what......I'm confidently raise my hand!!

Tanpa pikir panjang saya langsung mengacungkan tangan dari tempat duduk barisan saya yang letaknya agak cukup jauh dengan panggung tengah tempat Pa Dibyo memimpin jalannya latihan ini.
And then...saya pun maju ke depan...dan saya ingat sekali saat itu ada satu orang yang juga berani mengacungkan tangannya diantara 5000 mahasiswa baru lainnya.
So...mendadak di tempat kami cari lagu untuk dinyanyikan bersama, sesuai permintaan dari Pa Dibyo. Lagu yang kami nyanyikan saat itu adalah "The Greatest Love Of All".
Dan ternyata sambutan dari teman-teman mahasiswa baru lainnya saat itu cukup meriah saat melihat kami menyanyi.

Keesokan harinya di masa-masa Latihan Paduan Suara Mahasiswa Baru masih berlangsung, saya bernyanyi dengan percaya dirinya di sela-sela jam istirahat. Saya membawakan lagu "Endless Love". Tidak terlintas maksud apa-apa saat itu, yang saya tau hanyalah SAYA INGIN BERNYANYI.
Esok harinya, Pa Dibyo, sang Conductor Balairung :)....berbicara dengan suaranya yang lantang dan khas di microfon "siapa mahasiswa baru yang kemarin menyanyikan Endless Love"?
Dan lagi-lagi, I'm Confidently raise my hand hehehe.....
Saya pun maju ke depan. Dan ternyata beliau meminta saya untuk bernyanyi Solo di Hari-H Upacara Wisuda UI berlangsung dengan membawakan lagu Restumu Kunantikan.
Ouw...ouw...saya tidak pernah dengar lagu itu dan saya sebagai mahasiswa baru belum bisa membayangkan seperti apa suasana bernyanyi di Upacara Wisuda UI.
So...saya berlatih kurang lebih 3 hari di rumah dengan keyakinan pasti bahwa saya bisa membawakannya.

And hari-H tiba. Saya baru melihat ternyata begitu banyak orang yang hadir di Upacara Wisuda itu. 5000 mahasiswa baru di Balkon atas, lebih dari 3000 wisudawan di area bawah. Belum lagi orangtua wisudawan yang tersebar di sayap kiri, kanan, dan belakang gedung. Ditambah para Guru Besar yang duduk di hadapan Panggung tempat saya berada. Para guru besar itu mengenakan toga dan sepertinya mereka "unreachable"...karena berpakaian megah dan duduk di podium besar di hadapan saya hehe.
Mungkin hampir 10.000 orang hadir dan berkumpul dalam upacara wisuda itu.

Yang saya lakukan sebelum bernyanyi hanya berdoa dan meyakinkan diri ...terutama menenangkan diri. Saya melihat sekeliling saya dan berusaha merasakan setiap detik moment ini. 

Tibalah waktunya, nama saya dipanggil dan bersiap naik ke atas panggung. Dengan mengenakan Jaket kuning dan Peci almamater sebagai simbol saya mahasiswa baru, saya pun naik ke atas panggung dengan yakin....lagu itu pun mengalir dan saya sungguh menikmati moment itu.

Saya menikmati moment saat di atas panggung memandangi banyaknya orang di sebelah kanan, kiri saya dan bernyanyi untuk mereka. Saya menikmati setiap tepukan tangan mereka dan senyuman di wajah mereka.

And I realized...angan-angan yang pernah saya bayangkan saat termenung di Latihan Paduan Suara ternyata menjadi kenyataan. Saya bernyanyi solo di tengah-tengah di hadapan sekian puluh mata. Terimakasih Tuhan.
Solois Wisuda UI

Dan kini saya sudah melalui hampir lebih dari 30 kali bernyanyi solo di Upacara Wisuda UI di Balairung (baik itu wisuda S1, S2, S3 maupun D3) dan saya selalu menikmati moment-moment berdiri di atas panggung itu, bernyanyi dan menyampaikan pesan indah lewat lagu yang saya lantunkan. Terimakasih Tuhan.

Semoga lagu-lagu yang pernah saya lantunkan di panggung ini, bisa menjadi pesan yang indah untuk mereka yang mendengarkan!
Older
Stories

Singer-Songwriter


Indonesian singer-songwriter, Public relations, Musicpreneur.
Debut Album "Bountiful Eyes" (Itunes, Spotify, Physical CD).
-- pennyhutabarat.official@gmail.com
http://pennyhutabarat.com
--


Blog ini berbagi tentang music, life & muses, work, travel dan books.
"Whatever your Dream is, Make It Happen!"

Top Article

Waktu = Nilai Hidup, Kesempatan dan Catatan Perjalanan

W aktu adalah tentang nilai hidup.  Tentu kita mengetahui betapa pentingnya waktu, namun seringkali kita mengabaikan dan melupakannya. Ada...

Blog Archive

  • ▼  2021 (4)
    • ▼  Oktober (1)
      • The Go Giver
    • ►  April (3)
  • ►  2020 (3)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2019 (8)
    • ►  Desember (2)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (3)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2018 (14)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (4)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2017 (14)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (4)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (3)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2016 (40)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (3)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (6)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (4)
    • ►  Februari (8)
    • ►  Januari (8)
  • ►  2015 (37)
    • ►  Desember (5)
    • ►  November (4)
    • ►  Oktober (3)
    • ►  September (3)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (7)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (2)
    • ►  Maret (5)
    • ►  Februari (2)
  • ►  2014 (22)
    • ►  Desember (3)
    • ►  Agustus (4)
    • ►  Juli (3)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (6)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2013 (27)
    • ►  Desember (10)
    • ►  September (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  April (8)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2012 (5)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Maret (2)
  • ►  2011 (5)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2010 (10)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2009 (18)
    • ►  Desember (2)
    • ►  Oktober (6)
    • ►  September (3)
    • ►  Agustus (7)

trazy

trazy.com

Labels

  • Vocademia UI
  • bountiful eyes
  • buku
  • dreams
  • festival menyanyi
  • focus
  • impian
  • independent musician
  • kolaborasi
  • make it happen
  • menulis
  • mini album
  • musik
  • passion
  • perjalanan
  • seoul
  • simplicity

Instagram

Template Created By : ThemeXpose . All Rights Reserved.

Back to top