• Home
  • Music
  • Work & Values
  • MarComm & Branding
  • Travel
  • Books

Blog Penny Hutabarat

book that have inspired me

Keep It Simple

23.35
Salah satu prinsip yang penting, baik dalam memulai project/ usaha/start up bisnis  maupun bila kamu sudah menjalaninya, ataupun kamu sedang berpikir untuk switching to a new career adalah Think Simple. Seringkali kita "dihujani" dengan banyak ide dan rencana, lalu kesulitan memilah dan mengatur waktu untuk mengerjakannya. 



  • Simplicity is simple

Buku "Start Something that Matters" (Blake Mycoskie) memberikan insight tentang bagaimana ia memulai dan mempertahankan prinsip Simplicity pada brand sepatu yang dibangunnya yakni TOMS. Bila kamu membaca tulisan saya sebelumnya: be resourceful without resources, brand sepatu TOMS ini terbukti menunjukkan pentingnya simplicity pada model bisnisnya: "with every pair you purchase, TOMS will give a pair of new shoes to a child in need. One for One".  
Misi dan pesan yang di-deliver ini, merupakan pesan sederhana yang dapat dipahami dan diteruskan oleh siapapun, yakni bahwa brand ini akan berbagi sepasang sepatu untuk anak-anak yang membutuhkan, yang berasal dari setiap penjualan sepatu merek TOMS ini. Kunci dari pertumbuhan brand sepatu TOMS adalah komitmennya untuk giving (berbagi). Dan ini menginspirasi customer dan employees dari brand TOMS, menarik perhatian media dan juga partner yang juga punya kerinduan untuk berbagi dan give back.

~You don't have to wait to start a business to enjoy simplicity. i've found that simplicity in life can be as important as it is in business 

 (Blake Mycoskie)


Learn from: SendABall.com

Mari kita lihat bagaimana brand sukses lainnya juga menerapkan prinsip keep it simple ini. Pernah mengunjungi web SENDaBALL.com? ada cerita menarik di balik keberhasilan bisnis tersebut. Michele Kapustka, founder SendABall, memiliki hobi yang berhubungan dengan surat-menyurat sejak ia kecil. Ia senang mengirimkan kartu ucapan dan surat ke teman atau saudaranya. Lalu ia bekerja sebagai creative director pada direct-mail company selama 17 tahun. Ia melihat interest nya dalam menulis surat dan ucapan kian berkembang menjadi passion nya pada sesuatu yang berhubungan dengan mailing objects. Yang menarik, ia berkreasi dengan setiap objek yang ia kirimkan ke teman dan saudaranya, tidak selalu menulis di atas kertas ucapan, hingga ia mencoba menuliskan ucapan yang dikirimkannya melalui sebuah bola (balls). Ini menjadi hobi nya yang fun dan disukai oleh teman-teman dan saudara yang menerima kiriman greeting balls-nya, dibandingkan greeting cards yang sebelumnya sering ia lakukan. 




www.SendABall.com

Michele Kapustka melihat ada peluang bisnis dari hobi nya ini. Khususnya ketika beberapa rekannya memperhatikan hobinya yang menarik dan membeli greeting balls darinya untuk juga dikirim sebagai special gift kepada teman-teman lainnya. Michelle membangun  www.SendABall.com. Kini, send a ball yang berawal dari hobi telah menjadi bisnis yang dimulai Michele Kapustka dari langkah-langkah kecil. SendABall menerima banyak pesanan all over the world untuk pengiriman greeting balls yang dapat ditulis secara custom sesuai keinginan customer. Bisnis SendABall ini tetap mempertahankan prinsip pure and simple nya. Tidak sulit bagi konsumen untuk memesan dan mengirimkan special gift yang unik, yang dibutuhkan adalah sesederhana tulisan tangan yang kita tuliskan di atas bola yang dipesan dan sense of humor untuk membuatnya semakin menarik dan berkesan. 
  
  • Learn from iPod
image by: fortune.com
Simplicity juga berlaku dalam desain produk. Coba kita lihat produk dan brand sukses di sekeliling kita, sebagian besar memiliki konsep design yang amat sederhana. Salah satu contoh yang sering kita temui adalah produk Apple, khususnya iPod. Saat awal diperkenalkan sebagai small music player, iPod secara original desainnya tidak lebih dari sebuah tombol, satu lingkaran dan screen (layar). iPod memiliki sesuatu yang tidak dimiliki kompetitornya yaitu: simplicity of design dan ease of use. Prinsip simplicity ini diaplikasikan pula pada produk-produk apple lainnya seperti iPad, Iphone dst. 


~ Simple ideas are also easily adaptable to changing times - and sometimes they never have to be adapted at all 




==

inspiration

Never Stop Learning! Mentor and Mentee

06.41
Hi teman, rasanya sudah lama saya tidak menulis di blog tercinta ini :) Saya selalu rindu menulis, tapi beberapa bulan ini saya (dengan senang hati) disibukkan oleh kegiatan bimbingan atau mentoring. Diantaranya membimbing sejumlah mahasiswa untuk Tugas Karya Akhir-nya, dan membimbing kelompok mahasiswa untuk Kegiatan Kewirausahaan. 

Saya senang membaca artikel tentang mentorships, buku-buku tentang digital marketing, marketing communication, entrepreneurship, technopreneurship. Dan terbuka dengan buku-buku ber-genre lainnya :) . Yang menarik dengan pengalaman mentorship adalah bukan buku-buku dan teori-teori itu, tapi memahami karakter-karakter  yang berbeda...yang punya latar belakang berbeda....interest dan passion yang berbeda...pandangan yang berbeda. 

Namun tetap arahnya satu, bagaimana mentor membantu mentee dalam meraih potensinya, untuk mencapai goals dengan cara yang baik dan benar....mengarahkan mereka agar menggunakan ilmu nya untuk bermanfaat sebaik-baiknya, tidak hanya untuk diri mereka sendiri tapi juga bagi orang lain. Kedengarannya mungkin klise. Tapi tidak! Tidak klise! Seorang mentor harus memperhatikan dan mengapresiasi proses menuju goals itu. 

Proses-lah yang menjadi momentum bagi mentee (anak bimbingan) untuk  bertumbuh, beradaptasi, memahami dirinya - mentor - dan orang lain, menemukan dan membangun sesuatu dari  sekumpulan ide yang bercabang menjadi fokus dan terarah, dari  titik-titik (dot..dot) yang kemudian mampu ia hubungkan untuk mencapai hasil ---> connecting the dot. 

Saya melihat ada 2 (dua) kompetensi penting bagi mentor yakni emphatizing dan active listening. Rasa empathy dan komunikasi yang baik...menjadi begitu penting untuk kunci membangun kerjasama  antara mentor dan mentee. Dan yang tidak kalah penting, juga cukup esensial adalah active listening. Tidak sedikit mentor yang membuat kekeliruan karena sekedar "hearing" dan tidak "listening". Hearing barulah tahap awal untuk listening. Dalam listening, kita melakukan interpretasi dari apa yang didengarkan dan mendapatkan pengertian.....melakukan evaluasi dari informasi yang didapatkan, lalu menentukan bagaimana akan menggunakan informasi itu sebaik mungkin. 

Seorang mentor dapat men-transfer energinya, rasa percaya dirinya, membagikan pengalaman dan networks serta menjadi sounding board bagi mentee. Dan mentee juga mengasah kepekaan mentor untuk terus belajar. 

Dalam perjalananmu, pasti kamu pernah menjadi mentee dan memiliki mentor yang membantu kamu menemukan potensi dalam diri...yang menginspirasi dan memberikan bekal tambahan yang baik dalam perjalananmu. Saya bersyukur memiliki sejumlah mentor dalam perjalanan saya. Beberapa tahun yang lalu, saya pernah menuliskan tentang my good mentor disini. 

Dan suatu hari, ketika kamu dipercaya untuk menjadi mentor, gunakan kesempatan itu sebaik yang kamu bisa. Never stop learning! Saat menjadi mentor, sesungguhnya kita juga menjadi murid yang terus belajar dan berusaha memahami. 




If You Never Stop Learning, You Can Never Stop Earning

(Bila kamu terus mau belajar, kamu juga akan terus produktif)


Older
Stories

Singer-Songwriter


Indonesian singer-songwriter, Public relations, Musicpreneur.
Debut Album "Bountiful Eyes" (Itunes, Spotify, Physical CD).
-- pennyhutabarat.official@gmail.com
http://pennyhutabarat.com
--


Blog ini berbagi tentang music, life & muses, work, travel dan books.
"Whatever your Dream is, Make It Happen!"

Top Article

Waktu = Nilai Hidup, Kesempatan dan Catatan Perjalanan

W aktu adalah tentang nilai hidup.  Tentu kita mengetahui betapa pentingnya waktu, namun seringkali kita mengabaikan dan melupakannya. Ada...

Blog Archive

  • ▼  2021 (4)
    • ▼  Oktober (1)
      • The Go Giver
    • ►  April (3)
  • ►  2020 (3)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2019 (8)
    • ►  Desember (2)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (3)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2018 (14)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (4)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2017 (14)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (4)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (3)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2016 (40)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (3)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (6)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (4)
    • ►  Februari (8)
    • ►  Januari (8)
  • ►  2015 (37)
    • ►  Desember (5)
    • ►  November (4)
    • ►  Oktober (3)
    • ►  September (3)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (7)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (2)
    • ►  Maret (5)
    • ►  Februari (2)
  • ►  2014 (22)
    • ►  Desember (3)
    • ►  Agustus (4)
    • ►  Juli (3)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (6)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2013 (27)
    • ►  Desember (10)
    • ►  September (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  April (8)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2012 (5)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Maret (2)
  • ►  2011 (5)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2010 (10)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2009 (18)
    • ►  Desember (2)
    • ►  Oktober (6)
    • ►  September (3)
    • ►  Agustus (7)

trazy

trazy.com

Labels

  • Vocademia UI
  • bountiful eyes
  • buku
  • dreams
  • festival menyanyi
  • focus
  • impian
  • independent musician
  • kolaborasi
  • make it happen
  • menulis
  • mini album
  • musik
  • passion
  • perjalanan
  • seoul
  • simplicity

Instagram

Template Created By : ThemeXpose . All Rights Reserved.

Back to top