• Home
  • Music
  • Work & Values
  • MarComm & Branding
  • Travel
  • Books

Blog Penny Hutabarat

books review

#ReviewBuku : 20 Things You Must Know About Music Online

03.31

Buku ini menggali tentang new music strategies untuk membantu small-medium music business dan para independent artis dalam menggunakan online teknologi.



Kita selalu mendengar bahwa music business has changed. Ini tidak sepenuhnya benar, pada faktanya adalah it`s changing ~ ini dua hal yang berbeda. Menghadapi perubahan tsb adalah salah satu tantangan terbesar bagi independent music business. Cara terbaik adalah dengan betul-betul memahami apa yang terjadi dan mempelajari perubahan yang muncul di sekeliling kita, sehingga kita dapat beradaptasi dan meresponnya dengan tepat.



Andrew Dubber, penulis buku ini, membagikan beberapa langkah dan catatan penting untuk dapat mengimplementasikan new music strategies. Tak perlu memaksakan diri menjadi computer-whiz, yang penting kita pahami basic principles-nya dan belajar melakukannya step by step.



Untuk membaca selengkapnya, kamu bisa download e-book nya yang tersedia di : http://newmusicstrategies.com/wp-content/uploads/2008/06/nms.pdf


Beberapa list dan point penting yang coba saya rangkum :

# Don`t Believe The HYPE
Hype adalah upaya mempromosikan atau mempubliikasikan (produk atau ide) secara intensif dan berlebihan. Don`t believe the hype! What sells a band/ singer is a Great Story! (Genuinely Great), Bila kita ingin membuat kemajuan dalam music business di suatu hari nanti, kita tidak bisa mengandalkan kisah sukses yang spektakuler dari Myspace (misalnya) dan kita juga tidak bisa terus khawatir atau takut dengan `lost sales` dari produk kita karena banyaknya free download saat ini.
Lebih baik kita melihat teknologi terkini sebagai tools untuk membantu kita beradaptasi dengan perubahan pada music industri. Dan tetap, jangan percaya Hype! Genuine Story jauh lebih baik dan long-lasting.


# Hear/Like/Buy

Musik adalah sesuatu yang unik ketika masuk ke dalam konsumsi media. Seperti buku dan film, umumnya konsumen akan membeli buku atau tiket nonton baru mengkonsumsinya. Meski sebenarnya konsumen belum tau betul apakah buku dan film itu menarik baginya. Tapi musik, bila dilihat dari music buying experience, sangat berbeda --> Cara paling tepat untuk mempromosikan musik adalah untuk membiarkan orang mendengarkannya lebih dulu. Bahkan kalau perlu berulang kali mendengarkannya. Setelah itu, bila kita sebagai musisi/ produsen cukup beruntung, barulah orang-orang yang mendengarkan musik tsb ingin tau lebih dekat, mencintai musik/ karya kita dan sooner or later mereka akan memiliki dan membeli karya musik atau album tsb.


Dua hal penting dalam music marketing yaitu bahwa music adalah tentang Familiarity dan Uniqueness.



Konsumsi musik, tidak hanya berkaitan dengan buying atau listening, Tetapi juga collecting, organising, dan making sense of the music in relation to a personal canon. So, let people hear your music repeatedly, grow to love your music, and make ur music become their collection.



# Opinion Leaders Rule

Promosi terbaik untuk karya musik kita adalah melalui trusted recommendation. Bayangkan juga metode yang dilakukan Amazon.com dengan model `people who bought this also bought that`.


# Customise

Kita tidak bisa mengikuti formula yang sama dengan musisi lainnya. Diferensiasikan dirimu dengan cara yang positive. Misalnya website seorang musisi >> tujuan website adalah untuk merefleksikan diri dan cara bagaimana kita ingin mengkomunikasikan karya tsb. Dan ini pasti berbeda untuk setiap orang, `think carefully`. itu sebabnya harus ada pembeda, tak bisa berjalan dengan formula yang sama.


# The Long Tail

Apa itu `The Long Tail`? ada 3 prinsip long tail :
- semakin banyak item/ product yang kamu sediakan, semakin orang-orang akan meng-eksplore `the non-hits`. (mereka akan bosan mencari yang hits dan mulai mencari yang non-hits misalnya karya-karya musisi independen yang unik & kreatif).
- semakin banyak item/ produk yang kamu sediakan, semakin banyak orang akan mengkonsumsi beragam atau berbagai jenis produk.
- semakin kita membuat suatu produk mudah untuk dicari dan didapatkan, semakin besar benefit yang akan didapatkan pada bisnis tsb.


Fakta penting tentang prinsip `The Long Tail` ini yaitu :

SUM Total dari economic value `Tail` (sesuatu yg non-hits) saat ini jauh semakin besar daripada SUM Total dari economic value `Head` (sesuatu yang hits).


# Web 2.0, Connect, Fewer Clicks, Accessibility

Web bukanlah brosur! tapi tempat dimana orang-orang bisa `gather and connect` dengan musisi/ artist dan sesama fans.
Bayangkan toko musik misalnya juga adalah cafe yang berfungsi sebagai centre of community (bersosialisasi, diskusi tentang musik, membeli produk musik dan mendengarkan musik)


Having a web is not a promotional strategy. If u`re going to have a website, u need to have a promotional strategy.

Promotional strategy harus dapat meng-generate traffic dan repeat business.


People connect with a story! The most important thing is to have a Story to Tell.



A single zip file is Better than 13 individual MP3. Fewer clicks!



Website harus mudah diakses (accessable).



# Cross-Promote, Distributed Indentity

Temukan bagaimana caranya agar online stuff dan offline stuff dapat terhubung (genuinely intersect). Semua yang dilakukan oleh music business dan musician (online dan offline) harus link-back ke Website.


Distribusikan identitas, strateginya melalui : email signature, blog comments, forum activity, social networking dan multiple sites.



# SEO, RSS Feed, Permission & Personalitation

SEO (Search Engine Optimation) sangat penting. Beberapa tips yaitu meta tags, header tags, link text, site map, content (keywords), updating content dan stick with your domain name.


RSS (Really simple syndication) dapat membantu untuk generate traffic, menemukan new audience, memposisikan web kita sebagai opinion leader dan membuat lebih attraktif. Beberapa rekomendasi untuk RSS : googlereader, del.icio.us, sage.



Permission & personalisation juga penting diperhatikan! Informasi yang kita kirimkan pada audience harus relevan, useful dan welcome. Lebih dari itu, personalise your content ; tidak hanya memikirkan tentang info yang akan disebarkan atau dibagikan pada audience tetapi juga pikirkan apa yang kira-kira sesuai dan ingin diketahui oleh audience tsb.

Dan yang terpenting, keep it simple! Don`t be long-winded! Umumnya orang-orang cenderung hanya scanning info yang kita kirimkan.


#Professionalism, Frequency is everything, Make it Viral

Website adalah tempat dimana kamu dapat me-manage perception dan memberikan impression. Myspace is NOT your web! and your Web is NOT a brochure!


Frekuensi yangrutin dan disiplin dalam mengelola konten web PENTING! Gunakan Content Management System (CMS), pre-plan things to talk about.



Make it Viral! Ini berarti menggunakan effective marketing : having a good story (video, audio atau text) ; USP (unique selling proposition) ; temukan strategi untuk membuat orang lain RETELL your story and RE-RETELL it!



#Forget product - sell relationship

Dalam music business and marketing, viral marketing tak akan efektif tanpa hubungan baik dengan audience. Tetap lakukan live performance, print publishing, broadcast dan synchronisation. Produk tak selalu segalanya, tuangkan perhatian juga pada hubungan dengan audience.


Last but not least : Conversation, Connectivity, Relationship.
art work

Using Small Steps to Accomplish Your Dream Project

02.24

Meraih cita-cita dan impian tak harus terburu-buru layaknya mengejar waktu. Mewujudkan project impian, kamu tak perlu bertarung dengan waktu, tapi bersahabatlah dengan waktu dan lakukan langkah kecil yang mampu kamu jajaki satu demi satu.

Mengapa? Saat ini kita hidup dan tinggal di tengah gaya hidup yang cenderung instan, ingin cepat dan mengumbar beragam cara untuk mencapai sesuatu. Tapi teknologi ada untuk membantu dan memudahkan aktivitas kita, bukan untuk menguasai sebagian besar waktu kita. Memang dengan kehadiran teknologi sesuatu dapat lebih cepat untuk diproses, dibagikan dan disebarkan. Tetapi seringkali kita dibanjiri oleh berbagai informasi, pilihan dan bahkan keinginan sehingga kita melakukan langkah-langkah yang massiv, tidak terarah pada apa yang ingin kita capai. 


Seringkali kita membenarkan dan meyakini mitos yang mengatakan bahwa: ukuran dari langkah yang kita ambil menentukan ukuran kesuksesan yang kita capai, hingga cenderung merasa bahwa hasil yang besar dapat diraih dengan langkah yang besar dan cara yang besar. Kenyataannya tidak selalu seperti itu. 

Pernah mendengar filosofi Tao Te Cing yang menyebutkan :
“ The journey of a thousand miles begins with a single step”. Ya..a single step.  


Kita perlu membiasakan diri bahwa langkah kecil atau small steps yang dilakukan dan dilatih dengan disiplin setiap hari, akan membawa kita lebih baik untuk sampai di tujuan yang akan kita capai. Dalam langkah kecil yang tak terburu-buru, kita dapat merasakan setiap moment sebagai fase pembelajaran dan melihat moment sederhana sebagai sesuatu yang mampu menginspirasi diri kita.


===

Dalam bulan –bulan pertama pada proses pembuatan Debut EP (Mini Album),  saya sempat merancang ­ timeline yang ketat. Menjabarkan beragam hal yang perlu saya kerjakan,lalu men-set waktu penyelesaian. Timeline yang saya buat cukup dekat dan sekarang saya bisa mengatakan bahwa rencana  saat itu cukup terburu-buru bila diimplementasikan. 

Mulailah saya mengerjakan prosesnya, dan saya menemukan bahwa langkah besar tak selalu membawa pada hasil besar. Tapi ketika saya membuat langkah-langkah kecil yang berkala, justru saya bisa merasakan manfaatnya.


Ketika pertama kali saya merancang project mini album, lalu menentukan tim dengan siapa saya akan berkolaborasi,  dan berapa lama waktu yang akan ditempuh untuk pengerjaannya.....saya mencoba membuat langkah besar saat itu dengan optimis dapat mengerjakannya dalam 3 bulan. Namun itu tidaklah berjalan dengan mulus.


Saya memperbaiki pola pengerjaan project impian saya dengan melakukan small steps. Selama beberapa bulan dan di setiap hari saya menyisihkan 1 – 2 jam membaca buku-buku tentang project music independent,  music marketing, dan buku-buku tentang entrepreneurship. Lalu dari buku yang saya baca, saya mendapatkan insight yang sangat membantu dalam mengerjakan proses pembuatan mini album. Saya juga mendapatkan inspirasi untuk kemudian saya tuangkan dalam rancangan project yang saya kerjakan. 


Selain itu, saya mengevaluasi kembali rancangan awal yang saya buat, dan mengeliminir hal-hal yang tidak efektif untuk dilakukan. Dengan cara tersebut, saya bisa lebih fokus pada langkah-langkah kecil yang mampu saya realisasikan. Saya bertanya pada diri saya secara intens, apa tujuan mewujudkan project ini. Dan ini membantu mengingatkan saya dengan apa yang harus menjadi prioritas untuk dilakukan. 

Sejak itu, saya pun melakukan langkah-langkah kecil yang lebih berdampak. Saya menyisihkan waktu setiap hari untuk melatih lagu-lagu ciptaan saya dan menulis lagu-lagu baru dengan lebih fokus, santai dan mengalir. Saya berdiskusi dengan teman yang memiliki pengalaman dalam pembuatan album secara independent label dan melakukan riset pasar. 

Langkah-langkah kecil yang bertahap ini dapat saya lakukan dengan lebih baik,  setelah saya memilih untuk tidak mengerjakan berbagai list rencana yang saya susun. Tapi justru fokus pada satu sampai dua langkah kecil dalam beberapa waktu namun hasilnya sangat berpengaruh untuk berjalannya project tsb.    
books review

#ReviewBuku : `The 20 Things You Must Know About Music Online`

22.43

Buku ini menggali tentang new music strategies untuk membantu small-medium music business dan para independent artis dalam menggunakan online teknologi.

Kita selalu mendengar bahwa music business has changed. Ini tidak sepenuhnya benar, pada faktanya adalah it`s changing ~ ini dua hal yang berbeda. Menghadapi perubahan tsb adalah salah satu tantangan terbesar bagi independent music business. Cara terbaik adalah dengan betul-betul memahami apa yang terjadi dan mempelajari perubahan yang muncul di sekeliling kita, sehingga kita dapat beradaptasi dan meresponnya dengan tepat.

Andrew Dubber, penulis buku ini, membagikan beberapa langkah dan catatan penting untuk dapat mengimplementasikan new music strategies. Tak perlu memaksakan diri menjadi computer-whiz, yang penting kita pahami basic principles-nya dan belajar melakukannya step by step.

Untuk membaca selengkapnya, kamu bisa download e-book nya yang tersedia di : http://newmusicstrategies.com/wp-content/uploads/2008/06/nms.pdf

Beberapa list dan point penting yang coba saya rangkum :

# Don`t Believe The HYPE
Hype adalah upaya mempromosikan atau mempubliikasikan (produk atau ide) secara intensif dan berlebihan. Don`t believe the hype! What sells a band/ singer is a Great Story! (Genuinely Great), Bila kita ingin membuat kemajuan dalam music business di suatu hari nanti, kita tidak bisa mengandalkan kisah sukses yang spektakuler dari Myspace (misalnya) dan kita juga tidak bisa terus khawatir atau takut dengan `lost sales` dari produk kita karena banyaknya free download saat ini.
Lebih baik kita melihat teknologi terkini sebagai tools untuk membantu kita beradaptasi dengan perubahan pada music industri. Dan tetap, jangan percaya Hype! Genuine Story jauh lebih baik dan long-lasting.

# Hear/Like/Buy
Musik adalah sesuatu yang unik ketika masuk ke dalam konsumsi media. Seperti buku dan film, umumnya konsumen akan membeli buku atau tiket nonton baru mengkonsumsinya. Meski sebenarnya konsumen belum tau betul apakah buku dan film itu menarik baginya. Tapi musik, bila dilihat dari music buying experience, sangat berbeda --> Cara paling tepat untuk mempromosikan musik adalah untuk membiarkan orang mendengarkannya lebih dulu. Bahkan kalau perlu berulang kali mendengarkannya. Setelah itu, bila kita sebagai musisi/ produsen cukup beruntung, barulah orang-orang yang mendengarkan musik tsb ingin tau lebih dekat, mencintai musik/ karya kita dan sooner or later mereka akan memiliki dan membeli karya musik atau album tsb.

Dua hal penting dalam music marketing yaitu bahwa music adalah tentang Familiarity dan Uniqueness.

Konsumsi musik, tidak hanya berkaitan dengan buying atau listening, Tetapi juga collecting, organising, dan making sense of the music in relation to a personal canon. So, let people hear your music repeatedly, grow to love your music, and make ur music become their collection.

# Opinion Leaders Rule

Promosi terbaik untuk karya musik kita adalah melalui trusted recommendation. Bayangkan juga metode yang dilakukan Amazon.com dengan model `people who bought this also bought that`.

# Customise
Kita tidak bisa mengikuti formula yang sama dengan musisi lainnya. Diferensiasikan dirimu dengan cara yang positive. Misalnya website seorang musisi >> tujuan website adalah untuk merefleksikan diri dan cara bagaimana kita ingin mengkomunikasikan karya tsb. Dan ini pasti berbeda untuk setiap orang, `think carefully`. itu sebabnya harus ada pembeda, tak bisa berjalan dengan formula yang sama.

# The Long Tail
Apa itu `The Long Tail`? ada 3 prinsip long tail :
- semakin banyak item/ product yang kamu sediakan, semakin orang-orang akan meng-eksplore `the non-hits`. (mereka akan bosan mencari yang hits dan mulai mencari yang non-hits misalnya karya-karya musisi independen yang unik & kreatif).
- semakin banyak item/ produk yang kamu sediakan, semakin banyak orang akan mengkonsumsi beragam atau berbagai jenis produk.
- semakin kita membuat suatu produk mudah untuk dicari dan didapatkan, semakin besar benefit yang akan didapatkan pada bisnis tsb.

Fakta penting tentang prinsip `The Long Tail` ini yaitu :
SUM Total dari economic value `Tail` (sesuatu yg non-hits) saat ini jauh semakin besar daripada SUM Total dari economic value `Head` (sesuatu yang hits).

# Web 2.0, Connect, Fewer Clicks, Accessibility

Web bukanlah brosur! tapi tempat dimana orang-orang bisa `gather and connect` dengan musisi/ artist dan sesama fans.
Bayangkan toko musik misalnya juga adalah cafe yang berfungsi sebagai centre of community (bersosialisasi, diskusi tentang musik, membeli produk musik dan mendengarkan musik)

Having a web is not a promotional strategy. If u`re going to have a website, u need to have a promotional strategy.
Promotional strategy harus dapat meng-generate traffic dan repeat business.

People connect with a story! The most important thing is to have a Story to Tell.


A single zip file is Better than 13 individual MP3. Fewer clicks!

Website harus mudah diakses (accessable).

# Cross-Promote, Distributed Indentity
Temukan bagaimana caranya agar online stuff dan offline stuff dapat terhubung (genuinely intersect). Semua yang dilakukan oleh music business dan musician (online dan offline) harus link-back ke Website.

Distribusikan identitas, strateginya melalui : email signature, blog comments, forum activity, social networking dan multiple sites.

# SEO, RSS Feed, Permission & Personalitation

SEO (Search Engine Optimation) sangat penting. Beberapa tips yaitu meta tags, header tags, link text, site map, content (keywords), updating content dan stick with your domain name.

RSS (Really simple syndication) dapat membantu untuk generate traffic, menemukan new audience, memposisikan web kita sebagai opinion leader dan membuat lebih attraktif. Beberapa rekomendasi untuk RSS : googlereader, del.icio.us, sage.

Permission & personalisation juga penting diperhatikan! Informasi yang kita kirimkan pada audience harus relevan, useful dan welcome. Lebih dari itu, personalise your content ; tidak hanya memikirkan tentang info yang akan disebarkan atau dibagikan pada audience tetapi juga pikirkan apa yang kira-kira sesuai dan ingin diketahui oleh audience tsb.
Dan yang terpenting, keep it simple! Don`t be long-winded! Umumnya orang-orang cenderung hanya scanning info yang kita kirimkan.

#Professionalism, Frequency is everything, Make it Viral
Website adalah tempat dimana kamu dapat me-manage perception dan memberikan impression. Myspace is NOT your web! and your Web is NOT a brochure!

Frekuensi yangrutin dan disiplin dalam mengelola konten web PENTING! Gunakan Content Management System (CMS), pre-plan things to talk about.

Make it Viral! Ini berarti menggunakan effective marketing : having a good story (video, audio atau text) ; USP (unique selling proposition) ; temukan strategi untuk membuat orang lain RETELL your story and RE-RETELL it!

#Forget product - sell relationship

Dalam music business and marketing, viral marketing tak akan efektif tanpa hubungan baik dengan audience. Tetap lakukan live performance, print publishing, broadcast dan synchronisation. Produk tak selalu segalanya, tuangkan perhatian juga pada hubungan dengan audience.

Last but not least : Conversation, Connectivity, Relationship.
international conference

Autumn in Seoul (2)

23.26
Jalan menuju Sungkyunkwan Univ.
Masih catatan perjalanan di Seoul :). Di hari ke-2 dan 3, conference day berlangsung. Hari pertama conference dibuka pukul 12.00 siang, dan pagi hari saya masih punya cukup waktu untuk kembali membaca dan menyiapkan materi yang akan saya presentasikan di sore harinya.

Pagi saat sarapan di MacD yang letaknya tidak jauh dari GoldenPond (tempat kami menginap), tetiba saya bertemu dengan 2 orang Indonesia yang sepertinya baru saja tiba di Seoul karena mereka masing-masing membawa kopernya. Saya pun menyapa mereka dan ternyata mereka juga akan menghadiri International Conference yang sama, mereka adalah Ibu Lily Sudhartio dan Prof. Anton.

Foto bersama Ibu Lily Sudhartio, prof. Anton, Ibu Sari Wahyuni


Senang sekali bisa bertemu bu lily dan prof. Anton yang ramah dan easy going, kami kemudian berjalan kaki bersama menuju venue conference di Sungkyunkwan University. 
venue ICBMR conference

Add caption


Lokasi Sungkyunkwan Univ. sebenarnya tidak terlampau jauh dari GoldenPond, jadi saya bisa berjalan kaki dan menikmati udara pagi Seoul. Area kampus Sungkyunkwan Univ. cukup menyenangkan, rapi bersih dan mirip dengan kampus UI dimana kita perlu berjalan beberapa kilometer untuk mencapai fakultas atau building yang dituju. Tapi berjalan kaki disini tidak terasa melelahkan karena sepanjang mata memandang hehe pepohonan warna-warni dan daun-daun berguguran menemani langkah saya. Di dalam kampus, masih ada bangunan kuno khas Korea yang dipertahankan diantara bangunan modern lainnya. Venue conference kami bertempat di 500th Building, dan presentasi saya di International Conference ICBMR 2013 berjalan lancar. Sedikit sharing tentang presentation time saya di ICBMR ada disini.

Sore menjelang malam, setelah conference day 1 selesai, saya langsung buru-buru kembali menuju hotel dan bersiap-siap untuk keliling Seoul lagi. Tujuan jalan-jalan selanjutnya yaitu Gwangjang Market, di malam hari tempat ini penuh dengan jajanan makanan khas Korea. Kami mencoba tteokbokki dan beberapa jajanan lainnya disini. Dengan subway, kami lanjut ke Myeongdong (Shopping area). Nah..ini salah satu surga belanja di Korea, tempat yang perlu dikunjungi. 




Samsung D'Light

Samsung D'light



Hari ke-3, conference day 2 berlangsung dari pagi dan siangnya seluruh peserta conference mengikuti tour setengah hari yang disediakan panitia. Rute tour nya yaitu : Samsung D'Light,  NH  - National Agricultural Cooperative Federation, Gangnam area dan ditutup dengan menyaksikan Nanta Show di Myeongdong Nanta Theater.

NH

Gangnam



















Yang satu ini, Nanta Show atau biasa disebut Cookin' Nanta tidak boleh dilewatkan hehe sangat entertaining dan berkesan. Performance Nanta Show ini dikemas dalam durasi 1 jam dengan penampilan yang impassioned dari 5 actor Korea yang memerankan Cookin' Nanta ini. Memadukan kemampuan memasak, dance, percussion (music) dan body language. Jadi ke-5 actor ini hanya berkomunikasi dengan bahasa tubuh (body language) sehingga semua penonton dari berbagai latar belakang bahasa dan budaya bisa memahami jalan ceritanya. Musik yang up-beat membangkitkan semangat, ditambah lagi permainan perkusi oleh actor dengan menggunakan perkakas dapur sebagai alat musik. Ini dia lagi-lagi IDE yang remarkable tapi juga tetap menonjolkan khas budaya Korea yang senang memasak, detail, bergerak cepat dan membangkitkan semangat :)


Cookin' Nanta Stage


Nanta Theatre

Hari berikutnya selama trip di Korea, kami mengunjungi beberapa tempat yang tidak kalah menarik yaitu Insadong, Gyeongbokgung Palace, dan Namdaemun Market.
international conference

Autumn in Seoul

23.03
Puji Tuhan...awal November 2013, saya mendapatkan kesempatan untuk mengikuti International Conference di Seoul dan mempresentasikan paper penelitian tentang 'Entertainment Marketing' di Sungkyunkwan university. Saya berangkat ke Seoul bersama Mama dan sekaligus ingin menikmati indahnya Korea di saat musim gugur (autumn).

Perjalanan kami dari Jakarta menuju Seoul sekitar 7 jam. Sesampainya di Incheon International Airport, kami bertemu dengan kawan baru : Pammy, Tita Dan Tizi. Kebetulan mereka bertiga juga akan menghadiri conference yang sama yaitu ICBMR di Sungkyunkwan university. Pammy sudah pernah mengunjungi Seoul setahun sebelumnya, jadi tentulah Pammy sudah cukup familiar dengan tempat-tempat wisata dan transportasi di Seoul. Bersyukur sekali bisa bertemu Pammy, Tita dan tizi karena perjalanan kami meng-eksplore Seoul jadi makin seru dan lengkap :).


Tiba di Incheon pkl 09.00 pagi waktu Seoul, kami langsung menuju Seoul dengan airport bus. Sekitar 1 jam kami pun tiba di Seoul dan ternyata Golden Pond (hotel tempat kami menginap) letaknya tidak jauh dari halte bus tempat kami turun. Cuaca sudah cukup dingin sekitar 14derajat. Tiba di Golden pond kami meletakkan koper dan langsung jalan mencari makin siang di area Daehangno. Area ini tidak Jauh dari Golden Pond, merupakan salah satu pusat keramaian dengan banyak restaurant dan toko-toko kosmetik juga pakaian. Lokasi tempat kami menginap di Golden Pond memang cukup strategis karena letaknya juga di area dekat kampus Sungkyunkwan Univ. yang tidak pernah sepi hingga malam.

Wow..setelah makan siang di restoran Korea, kami langsung menuju N Seoul Tower! Yup, ini salah satu tempat favorite wisata di Korea. Tempatnya seperti di atas bukit, pengunjung bisa memilih jalan kaki dari jalan masuk utama N Seoul Tower atau menggunakan shuttle bus. Yang paling menggugah setiap mata memandang adalah pohon-pohon yang berwarna-warni di musim gugur (autumn) ini. Mulai dari warna kuning, coklat, orange bahkan merah. Ternyata benar kata orang kalau moment paling pas untuk berkunjung ke Korea adalah saat musim gugur (autumn), warna-warni pepohonan benar-benar menghujani indahnya Korea :) hehe..

Di N Seoul Tower, Ada beberapa spot wisata menarik yaitu Gembok Cinta (Love Padlock),Teddy Bear museum dan Tower yang tinggi menjulang.
Ini dia Gembok Cinta (Love Padlock) di Korea :


Gembok Cinta






























Di Teddy Bear Museum, kita diperlihatkan sejarah Korea dengan cara yang unik yaitu dengan patung dan boneka Teddy Bear yang dapat bergerak dan masing-masing memperlihatkan area-area utama di Korea dengan berbagai keunggulannya. Misalnya boneka Teddy bear yang menggambarkan Namdaemun Market sebagai tempat perbelanjaan yang bernuansa traditional atau Gangnam dengan ilustrasi Teddy Bear berpakaian eksklusif dengan nuansa perkantoran dan business district.













Setelah Teddy Bear museum, kami naik ke puncak N Seoul Tower dimana pemandangan Kota Seoul terlihat dari sini bahkan warna-warni pepohonan juga terlihat Indah seperti lukisan. Satu hal menarik ketika kami menaiki lift untuk menuju puncak Seoul Tower, di bagian atas lift nya ada semacam video 3D dengan lighting dan musik seperti suasana di bioskop. Bahkan di salah satu lantai, pengunjung ditawari foto oleh petugas disana dengan background foto yang mereka sediakan. Kita difoto gratis, tapi sesampainya di puncak tower ternyata photo digital kita sudah jadi dan siap cetak. Pengunjung tinggal  memutuskan membeli atau tidak. Lalu ada satu bangku yang unik di dekat Gembok Cinta (Love Padlock), bangku ini bentuknya seperti patah ke dalam, tapi menarik karena ketika kita berfoto disini bentuk bangku bisa membentuk simbol cinta :). Hehee...orang Korea memang tidak pernah kehabisan IDE ya..


















Usai di N Seoul Tower, kami menuju ke Cheonggyecheon Stream yaitu sungai yang terletak di tengah kota Seoul dan dibuat menjadi tempat wisata yang menarik. Saat kami ke stream ini, kebetulan sekali bertepatan dengan berlangsungnya event "Seoul Lantern Festival 2013".  Berbagai ornamen khas Korea dipajang di atas sungai ini, dengan balutan lantern  yang menyala-menyala. Jadilah malam itu tumplek-plek keramaian masyarakat Korea dan wisatawan yang berfoto dan menikmati suasana Lantern Festival :).

















Ada satu pengalaman yang menarik ketika di Cheonggyecheon Stream :) Salah satu teman saya tidak sengaja meninggalkan tas bawaannya dan ia baru tersadar ketika kami sudah berjalan cukup jauh di area ini. And guess what? :) tas bawaannya tidak hilang lho, padahal itu isinya souvenir dan dompet. Saya jadi teringat, seorang teman pernah bilang "Di korea...kalau ada barang bawaan tertinggal, atau kita letakkan barang sembarangan, bisa dipastikan barang itu tidak akan hilang dan gak akan dicuri maling". Hehe terbukti benar, pelajaran berharga bahwa orang-orang Korea menghargai milik orang lain dan bahkan hal-hal kecil, dan mereka juga memiliki
sikap moral yang baik..itu dibuktikan sehari-hari.
Great!
Seandainya nich..andai di Indonesia seperti itu, pastilah kita gak perlu khawatir dengan maling dan barang bawaan. Di Indonesia mungkin banyak orang pandai memperkatakan hal yang berbau moral ya hehe tapi sering lupa melakukan dan implementasi sehari-hari.










Satu hal baik dari attitude orang Korea terbukti lagi lho....yaitu waktu saya bertiga bersama teman dan mama memutuskan untuk pulang lebih duluan dari Cheonggyecheon Stream ke hotel. Cuaca makin dingin dan gerimis, lumayan menggigil :). Akhirnya pilihan transportasi yang paling pas bila kondisi begini adalah taksi. Dan kami bertiga belum paham arah dari stream ke hotel, jadi saya menemui seorang polisi yang bertugas di jalan dan menanyakan arah padanya untuk kemudian mengambil taksi. Info penting yang perlu teman-teman ketahui nich kalau liburan ke Korea : taxi driver di Korea hampir sebagian besar tidak bisa berbahasa English, mereka pun hanya membaca tulisan Hangul (korea). Sejak di Jakarta, saya sudah siapkan alamat hotel yang versi hangul (tulisan korea), tapi ketika jalan-jalan hari pertama tulisan itu tertinggal di koper dan tidak saya bawa hihi. So...polisi yang saya temui ini salah satu jawaban untuk membantu memandu kami hehe. Saya hanya mengharapkan polisi ini menunjukkan arah agar kami tidak mengambil taxi di arah yang keliru, ehh..rupanya polisi korea baikk bangett..dia malah mengantar kami menyeberang dan memilihkan taksi untuk kami lalu menjelaskan tujuan kami ke supir taxi itu. Helpful bukan..?! Tidak heran bila Korea jadi salah satu pilihan wisata yang tepat oleh banyak orang karena negaranya memang tertib, teratur, orang-orang helpful dan sistemnya memudahkan terutama transportasinya.



business and management

The 8th ICBMR (1) Preparation Time

18.35

ICBMR (International Conference on Business & Management Research) diselenggarakan untuk yang ke-8 kalinya di Seoul, South Korea. Konferensi Internasional ini diselenggarakan oleh Fakultas Ekonomi UI dan Sungkyunkwan University, Seoul. Berbagai makalah ilmiah di bidang ekonomi (financial, marketing, strategic, business) dipresentasikan dalam kesempatan ini. Makalah penelitian saya yang membahas mengenai Art Sponsorship dan Entertainment Marketing berhasil lolos dalam tahap review oleh ICBMR’s committee. Dan waktunya untuk di presentasikan pada audience yang berasal dari berbagai universitas di Asia dalam conference ICBMR yang ke-8 ini. 

 Flash back mengenai persiapan makalah (paper) untuk The 8th ICBMR 2013 :  

* Paper yang saya submit dan ajukan ke International Conference ini adalah penelitian thesis saya pada tahun 2012 di Magister Science Management. Di tahun 2012, saat saya presentasi dalam Sidang Thesis sebagai syarat kelulusan program Master, saya ingat sekali saat itu Dr. Adi Zakaria Afiff menyampaikan agar penelitian saya jangan berhenti sampai disitu. Ia meng-encourage saya untuk mencoba ikut dan mendaftarkan makalah (paper) penelitian saya ke ICBMR Conference dan kemudian diharapkan tulisan saya dapat di publikasi di salah satu Jurnal internasional. Itu adalah pertama kali saya mengenal event dan nama ICBMR (International Conference on Business & Management Research).

Kemudian pembimbing saya yang sangat luar biasa  :)  Gita Gayatri, PhD mendorong  saya untuk mengikuti saran Pak Adi tsb agar makalah penelitian ini dapat dipublikasikan ke dalam jurnal dan sebelumnya dipresentasikan lebih dulu pada international conference. Tahun 2012, saya dan bu Gita berencana untuk turut serta dalam ICBMR yang diselenggarakan di Vietnam. Namun tahun lalu niat kami untuk men-submit paper harus tertunda karena kondisi saya yang sedang sakit di saat itu.   

* Di April 2013, suddenly saya menerima message dari Bu Gita yang menanyakan apakah saya masih berminat dan tertarik untuk mendaftarkan makalah saya ke ICBMR yang akan diselenggarakan November 2013 di Seoul Korea. Dan saya mulai mempertimbangkannya saat itu, terutama masalah biaya untuk perjalanan mengikuti conference ini. Tapi dalam hati kecil, saya yakin ‘dimana ada niat, disana ada jalan’ :).

Lalu saya dan bu Gita mulai berkolaborasi mempersiapkan penelitian thesis tersebut untuk disajikan dalam bahasa inggris dengan format jurnal yang layak publikasi. Makalah penelitian tsb bukan lagi paper saya, tetapi paper kami berdua yakni saya dan Gita Gayatri, Ph.D. Saya cukup salut, di tengah kesibukannya, Bu Gita yang saat ini mengajar di University of Malaya masih menyediakan waktunya untuk mengoreksi dan mereview paper yang kami ajukan ke ICBMR.

*Tadda, good news! Di Juni 2013, kami menerima kabar dari ICBMR committee bahwa paper kami lolos dan diterima di International Conference on Business & management Research (ICBMR) dan untuk selanjutnya kami dapat melakukan oral presentation di Seoul. Tentunya senang mendengar kabarnya, tapi di satu sisi agak khawatir dan ragu karena biaya untuk perjalanan menuju ke tempat conference tentulah harus dipersiapkan dengan matang. Kebetulan di awal Juli 2013, saya bersama rombongan melakukan Misi Budaya ke Hungaria sehingga progress untuk saya mengajukan dana hibah (grant) untuk bantuan conference luar negeri sempat tertunda saat itu. 

Sekembalinya dari Hungaria, saya segera mempersiapkan berkas dan surat-surat untuk pengajuan grant bantuan conference luar negeri. Dan ternyata sulit nya minta ampun hehe...tak hanya urusan birokrasinya tetapi juga banyaknya syarat ini itu yang membuat saya sempat mengurungkan niat untuk presentasi di conference ini. Bahkan salah satu surat pengajuan saya ke kantor saat itu sempat ditolak karena alasan bla bla bla :).
Tapi tidak berhenti sampai disitu, rupanya penolakan itu malah mendorong saya untuk berusaha mengurus surat pengajuan grant saya dengan alternatif lainnya. Saya bertemu dan berdiskusi dengan beberapa rekan juga kerabat untuk meminta masukan dan rekomendasi mengenai bantuan grant tsb. Akhirnya 3 minggu sebelum tanggal keberangkatan ke Seoul, seluruh berkas-berkas grant yang saya ajukan telah di terima oleh Direktorat Riset di UI.  And my heartfelt thanks kepada Prof. Bambang Wibawarta, Dr. Lily Tjahyandari (FIB UI) yang men-support keikutsertaan saya di ICBMR conference ini.
Dan juga my gratitude kepada Dr. Arie Soesilo yang juga men-support keikutsertaan saya untuk presentasi di conference ICBMR dengan bantuan dari Direktorat Alumni.

Lesson learned : To be rejected is not a failure and should not be treated so. This is not to say you should give up trying to achieve your goals but in fact you should continue to try with the new understanding that you now have from the lesson learnt.  

-  * Perjuangan belum berhenti hehee. Sementara proses pengajuan bantuan (grant) saya lakukan, saya dan bu gita berkomunikasi secara intens by email untuk menyiapkan paper kami, mengoreksi setiap detailnya, me-revisi beberapa point, dan menyiapkan slide PPT untuk presentasi kami di ICBMR. Satu hal yang tidak terlupa adalah dalam persiapan conference ini, hehe saya sampai rutin berlatih presentasi di 2 minggu sebelum jadwal keberangkatan. Dan latihan presentasi itu tak hanya saya sendiri, tapi saya membuat simulasi bersama teman jadi seolah saya sedang mempresentasikannya langsung dalam conference tsb J. Untuk persiapan yang satu ini, saya harus terima kasih untuk my best friend Erni Adelina yang siap membantu dengan senang hati.
Urusan perjalanan juga tidak ketinggalan harus disiapkan satu demi satu : baik visa, tiket, mencari informasi untuk rekomendasi hotel, reservasi, perlengkapan untuk cuaca dingin selama di Seoul dan bermacam printilan penting lainnya yang perlu disiapkan segera J.

Finally, paper + slide presentasi beres di satu hari sebelum jadwal keberangkatan ke Seoul. Dan berbagai urusan lainnya, Puji Tuhan berjalan lancar. So, waktunya saya berangkat bersama ibu di 5 November untuk perjalanan kami ke Seoul, Korea. Tak hanya Conference tentunya, tapi kami juga berusaha menggunakan moment ini untuk menikmati dan meng-eksplore Korea. 
Older
Stories

Singer-Songwriter


Indonesian singer-songwriter, Public relations, Musicpreneur.
Debut Album "Bountiful Eyes" (Itunes, Spotify, Physical CD).
-- pennyhutabarat.official@gmail.com
http://pennyhutabarat.com
--


Blog ini berbagi tentang music, life & muses, work, travel dan books.
"Whatever your Dream is, Make It Happen!"

Top Article

Waktu = Nilai Hidup, Kesempatan dan Catatan Perjalanan

W aktu adalah tentang nilai hidup.  Tentu kita mengetahui betapa pentingnya waktu, namun seringkali kita mengabaikan dan melupakannya. Ada...

Blog Archive

  • ▼  2021 (4)
    • ▼  Oktober (1)
      • The Go Giver
    • ►  April (3)
  • ►  2020 (3)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2019 (8)
    • ►  Desember (2)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (3)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2018 (14)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (4)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2017 (14)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (4)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (3)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2016 (40)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (3)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (6)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (4)
    • ►  Februari (8)
    • ►  Januari (8)
  • ►  2015 (37)
    • ►  Desember (5)
    • ►  November (4)
    • ►  Oktober (3)
    • ►  September (3)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (7)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (2)
    • ►  Maret (5)
    • ►  Februari (2)
  • ►  2014 (22)
    • ►  Desember (3)
    • ►  Agustus (4)
    • ►  Juli (3)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (6)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2013 (27)
    • ►  Desember (10)
    • ►  September (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  April (8)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2012 (5)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Maret (2)
  • ►  2011 (5)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2010 (10)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2009 (18)
    • ►  Desember (2)
    • ►  Oktober (6)
    • ►  September (3)
    • ►  Agustus (7)

trazy

trazy.com

Labels

  • Vocademia UI
  • bountiful eyes
  • buku
  • dreams
  • festival menyanyi
  • focus
  • impian
  • independent musician
  • kolaborasi
  • make it happen
  • menulis
  • mini album
  • musik
  • passion
  • perjalanan
  • seoul
  • simplicity

Instagram

Template Created By : ThemeXpose . All Rights Reserved.

Back to top