• Home
  • Music
  • Work & Values
  • MarComm & Branding
  • Travel
  • Books

Blog Penny Hutabarat

book that have inspired me

Face Your Fears

05.21
Ketakutan (fears) pasti ada, dan itu terjadi pada setiap kita. Termasuk juga untuk mereka yang sedang memulai passionate project, menjalani start up dan usaha bisnisnya atau yang sedang menghadapi tantangan baru dalam pekerjaannya. Mengingat perasaan takut itu hampir pasti muncul di hari-hari yang kita jalani, satu-satunya cara adalah belajar menghadapinya. Learn to face it!





Tidak jarang, rasa takut juga dapat membantu kita dalam menyikapi situasi yang urgent. Ini yang namanya "fight-or-flight" response, yang mendorong seseorang untuk taking action. Di sisi lain, banyak juga dari kita yang menghadapi rasa takut dengan berhenti bertindak (stop acting), mungkin karena merasa kewalahan dan overwhelmed, mundur lalu menyerah, atau menggunakan rasa takut sebagai alasan untuk not to start something that matters. 

Untuk itu, kita perlu mengingatkan diri sendiri bahwa setiap orang face the fear. Termasuk orang-orang yang kita pandang berhasil dan sukses, mereka juga bertempur dengan kesulitan. Penting untuk kita mengelola bagaimana menghadapi rasa takut itu, create a plan to overcome the fears. 

Apa yang membedakan ultimate successes dengan ultimate failures? yang membedakannya adalah Fokus kita. 


~The more we focus on our fear, the more it grows and distorts our behavior. 


Untuk itu, daripada memilih fokus pada ketakutan tersebut, yang tentu tidak selalu dapat dikontrol, lebih baik untuk kita berfokus pada apa yang mampu kita kontrol yakni our actions. Bagaimana kita bereaksi terhadap negative feelings akan menjadi kunci keberhasilan kita.

Blake Mycoskie, dalam bukunya "Start Something That Matters" berbagi bagaimana ia menghadapi rasa takut dan fight off fear. Membaca buku-buku biografi, berdiskusi dengan orang-orang yang sukses di bidangnya, mendengarkan presentasi atau paparan dari leaders, akan membuat kita "melihat" dan mendengar tentang bagaimana mereka pernah melakukan kesalahan, menghadapi rasa takut & kegagalan. Lalu "memanfaatkan" moment tersebut sebagai titik tolak yang dapat menjadi berkat terbesar yang membawa pada kemenangan dan keberhasilan, termasuk dalam face the fears. Ini adalah pelajaran sepanjang hayat yang perlu terus kita pelajari dan hadapi.



Dalam memulai dan menjalani project TOMS Shoes-nya, Blake Mycoskie memanfaatkan beberapa cara efektif untuk live with the fear until he can overcome it:

  •  Remembered to live your story.   Kembali pada core question: "Why am I doing this"? Ketika kita kembali pada motivasi utama kita yang terdalam, kita kembali menegaskan authenticity dari apa yang kita jalani dan kerjakan.

  • Surround yourself with enthusiastic people & inspirational quotations. Pengalaman Blake dalam mendirikan brand TOM Shoes (seperti yang dibagikan dalam buku "Start Something that Matters), ia dikelilingi oleh internship teams yang punya antusiasme, rasa percaya diri dan membantunya merasa penuh energi untuk mewujudkan gagasan bersama timnya. Kebiasaannya memasang powerful words di ruang kerjanya juga membantunya face the fears. 
  • One small step on a long journey.  Ada baiknya kita tidak melihat langkah ke depan atau next step sebagai resiko yang luar biasa. Starting small. Pernah mendengar Japanese Concept yang dikenal dengan "Kaizen"? Kaizen berarti melakukan improvements kecil dan sedikit demi sedikit setiap hari, yang pada waktunya akan membawa pada massive improvement secara keseluruhan. Starting small, misalnya kamu telah memiliki pekerjaan rutin tetap, namun kamu punya passion di bidang lainnya. Contoh: kamu seorang guru di sekolah, tapi punya passion di bidang tulis-menulis. Kamu tidak perlu meninggalkan pekerjaan tetapmu. Bisa mulai melakukan passion mu sebagai part-time dulu. Lalu bila di kemudian hari, kamu menemukan bahwa passion dan keahlian dari side project tersebut juga bisa berdampak dan bermanfaat untuk dirimu tidak hanya dari sisi finansial tapi juga punya "meaning" untukmu dan orang-orang disekitar, mengapa tidak untuk take the next step menjadikan keahlian dan passionate project mu sebagai pekerjaan dan bisnis yang bermanfaat. 
  •  Conditions are never perfect. Salah satu letak ketakutan kita yaitu takut bila waktu kita memulai project atau bisnis tersebut adalah wrong time dan merasa harus menunggu sampai "the time is right". Masalahnya: the timing is never right!  Keadaan tidak pernah sempurna seperti yang diinginkan. Jadi bila kamu menunggu timing to be right untuk melakukan sesuatu, kamu tidak akan pernah make a move at all.  
  • Don't fear the unknown. Orang cenderung berpikir bahwa mereka dapat start something hanya bila mereka totally & completely memiliki pengetahuan tentang bidang yang akan dimasuki atau digeluti. Sedangkan hal itu kemungkinan will never happen. Jangan menunggu untuk knowing everything. Bila kamu memiliki good idea, energi yang positif, bermanfaat dan bila juga dapat menghasilkan, ditambah lagi kamu dapat melakukan yang terbaik, jangan takut dengan sesuatu yang belum kamu pahami. Pelajari sambil berjalan.
  • Everyone makes mistakes. Ketika memulai sesuatu yang baru, orang cenderung takut melakukan kesalahan hingga mungkin saja doing nothing. Jangan khawatir dengan apa yang dipikirkan orang lain.


~When you are living your story, it means your actions and your mission are the same, which eliminates any room for shame or dissapointment, the two emotions that underlie our greatest fears. That's when you have nothing to lose.



PH 09.02.19

*) Face Your Fears adalah salah satu insight yang saya dapatkan saat membaca buku Start Something Matters (Blake Mycoskie). Teman-teman bisa membaca tulisan saya tentang insight menarik lainnya dari buku ini, disini:
- Find Your Story
- Keep it Simple
-  Be Resourceful without Resources


book that have inspired me

Find Your Story

07.04
Semakin mudahnya informasi di akses di era teknologi saat ini, dan semakin banyaknya tersedia brand serta produk-produk yang memudahkan aktivitas kita, telah mendorong berubah dan bergesernya cara perusahaan saat ini dalam memperkenalkan produk dan brand nya pada konsumen. Tidak lagi mengandalkan pada ad campaign yang straightforward, tetapi melalui kekuatan storytelling. 

~A story evokes emotion, and emotion forges a connection


Di era saat ini, konsumen memilih-membeli-menggunakan suatu brand karena ia merasa connected dan terhubung dengan brand tersebut, yaitu melalui story yang dibangun oleh brand dan  resonate kepada semakin banyak orang. 





Namun story tersebut harus autentik dan tidak dibuat-buat. Kualitas dan manfaat produk sudah pasti penting, tapi tidak dapat dipungkiri bahwa story memiliki kekuatan yang dapat menggerakkan konsumen potensial maupun komunitas untuk terkoneksi dengan brand dan menjadi bagian dari  story tersebut. Bahkan tak hanya itu, the power of story juga mampu menghubungkan brand dengan potential partners yang ingin terhubung dengan sesuatu yang lebih dalam daripada buying & selling, yakni sesuatu yang memiliki meaning dan bukan sekedar business success, melainkan kontribusi sosial yang berdampak bagi lingkungan. Seperti halnya brand sepatu TOMS yang dibangun dari the story of giving. 

Engaging & Meaningful story dari TOMS Shoes ini dengan sendirinya menunjukkan brand identity dari produk tersebut. Begitu banyaknya pilihan brand sepatu bagi konsumen, tapi TOMS Shoes memiliki 'tempat di benak' konsumennya. Selain karena kualitas dan desain produknya yang menarik, story of giving dari brand TOMS yakni "with every pair you purchase, TOMS will give a pair of new shoes to a child in need" . Ini menjadi kekuatan bagi brand sepatu TOMS di tengah kompetisi dengan brand lainnya. Mengapa? karena konsumen dan komunitas dapat merasakan menjadi bagian dari suatu upaya sosial membantu anak-anak (yang membutuhkan sepatu di pelosok area) melalui setiap sepatu yang dibeli oleh konsumen. Sehingga konsumen tidak hanya sekedar membeli dan menggunakan produk, tetapi juga turut terlibat untuk sesuatu yang berdampak in a meaningful way. 


Find your Story
Saya mendapatkan insight menarik dari buku "Start Something that Matters" (Blake Mycoskie) mengenai bagaimana to find your own story. 
Hampir kita semua memiliki passion terhadap sesuatu, tapi terkadang kita sulit mengatakan atau mengungkapkannya. Terkadang kita lose touch dengan true passions kita, mungkin karena kita terdistraksi dengan rutinitas sehari-hari atau karena hampir jarang orang menanyakan tentang impian yang kita miliki. Itu sebabnya, sangat penting untuk pertama-tama kita dapat menemukan cara mengartikulasikan passion, khususnya pada diri kita sendiri dulu. Ketika kita menemukan what my passion is >>> we will have found our story as well.  

~ But once you figure out what your passion is, you have the core of your story and the beginning of your project

 
Saat kita menemukan apa passion kita, begin your project --apakah itu memulai start up bisnis, organisasi philanthropic maupun kegiatan sosial ataupun mencari pekerjaan yang terhubung dengan passion tersebut. Hal yang tidak kalah penting adalah commit to telling that story at every opportunity. Selain story tersebut resonating dan spreading, kita juga dapat menemukan cara untuk menyempurnakan story tersebut saat membagikannya dengan orang lain. 

~Make sure your story is crafted to appeal to the people you really want to become your supporters and that it draws from your core strength


Orang-orang yang membagikan dan menceritakan the story of giving dari brand sepatu TOMS ini, tidak hanya dilihat sebagai konsumen oleh Blake Mycoskie (founder TOMS) tetapi juga supporters. Gaining supporters starts with having a story worth supporting. Sebab konsumen dan employee bisa datang dan pergi, tetapi supporters dapat bersama  kita dalam jangka panjang. 

==

Ada salah satu contoh brand story yang juga insightful yang saya pelajari selain dari buku ini, yakni brand story dari GoPro. Pendorong keberhasilan GoPro adalah community dan sharing. Dimulai dari ide untuk membantu atlet mendokumentasikan diri mereka sendiri, GoPro telah menjadi standar untuk meng-capture diri sendiri dengan cara yang menarik, dimanapun kapanpun. Story yang diangkat GoPro berawal dari surat yang ditulis oleh pendiri GoPro, Nicholas Woodman, di situs GoPro. Pesan yang disampaikan adalah bahwa GoPro membantu orang menangkap pengalaman paling bermakna dalam hidup mereka, dan membantu orang membagi pengalaman serta merayakannya bersama. Pesan ini menjadi story yang kemudian beresonansi.

GoPro memiliki video story-nya, yang bisa kamu lihat disini

==

So, find your story & begin your project. Share it and carefully manage the story!





~If you organize your life around your passion, you can turn your passion into your story and then turn your story into something bigger -- something that matters.

  



PH 07.02.19


*) Find Your Story adalah salah satu insight yang saya dapatkan saat membaca buku Start Something Matters (Blake Mycoskie). Teman-teman bisa membaca tulisan saya tentang insight menarik lainnya dari buku ini, disini:
- Face your Fears
- Keep it Simple

-  Be Resourceful without Resources


 
book that have inspired me

Keep It Simple

23.35
Salah satu prinsip yang penting, baik dalam memulai project/ usaha/start up bisnis  maupun bila kamu sudah menjalaninya, ataupun kamu sedang berpikir untuk switching to a new career adalah Think Simple. Seringkali kita "dihujani" dengan banyak ide dan rencana, lalu kesulitan memilah dan mengatur waktu untuk mengerjakannya. 



  • Simplicity is simple

Buku "Start Something that Matters" (Blake Mycoskie) memberikan insight tentang bagaimana ia memulai dan mempertahankan prinsip Simplicity pada brand sepatu yang dibangunnya yakni TOMS. Bila kamu membaca tulisan saya sebelumnya: be resourceful without resources, brand sepatu TOMS ini terbukti menunjukkan pentingnya simplicity pada model bisnisnya: "with every pair you purchase, TOMS will give a pair of new shoes to a child in need. One for One".  
Misi dan pesan yang di-deliver ini, merupakan pesan sederhana yang dapat dipahami dan diteruskan oleh siapapun, yakni bahwa brand ini akan berbagi sepasang sepatu untuk anak-anak yang membutuhkan, yang berasal dari setiap penjualan sepatu merek TOMS ini. Kunci dari pertumbuhan brand sepatu TOMS adalah komitmennya untuk giving (berbagi). Dan ini menginspirasi customer dan employees dari brand TOMS, menarik perhatian media dan juga partner yang juga punya kerinduan untuk berbagi dan give back.

~You don't have to wait to start a business to enjoy simplicity. i've found that simplicity in life can be as important as it is in business 

 (Blake Mycoskie)


Learn from: SendABall.com

Mari kita lihat bagaimana brand sukses lainnya juga menerapkan prinsip keep it simple ini. Pernah mengunjungi web SENDaBALL.com? ada cerita menarik di balik keberhasilan bisnis tersebut. Michele Kapustka, founder SendABall, memiliki hobi yang berhubungan dengan surat-menyurat sejak ia kecil. Ia senang mengirimkan kartu ucapan dan surat ke teman atau saudaranya. Lalu ia bekerja sebagai creative director pada direct-mail company selama 17 tahun. Ia melihat interest nya dalam menulis surat dan ucapan kian berkembang menjadi passion nya pada sesuatu yang berhubungan dengan mailing objects. Yang menarik, ia berkreasi dengan setiap objek yang ia kirimkan ke teman dan saudaranya, tidak selalu menulis di atas kertas ucapan, hingga ia mencoba menuliskan ucapan yang dikirimkannya melalui sebuah bola (balls). Ini menjadi hobi nya yang fun dan disukai oleh teman-teman dan saudara yang menerima kiriman greeting balls-nya, dibandingkan greeting cards yang sebelumnya sering ia lakukan. 




www.SendABall.com

Michele Kapustka melihat ada peluang bisnis dari hobi nya ini. Khususnya ketika beberapa rekannya memperhatikan hobinya yang menarik dan membeli greeting balls darinya untuk juga dikirim sebagai special gift kepada teman-teman lainnya. Michelle membangun  www.SendABall.com. Kini, send a ball yang berawal dari hobi telah menjadi bisnis yang dimulai Michele Kapustka dari langkah-langkah kecil. SendABall menerima banyak pesanan all over the world untuk pengiriman greeting balls yang dapat ditulis secara custom sesuai keinginan customer. Bisnis SendABall ini tetap mempertahankan prinsip pure and simple nya. Tidak sulit bagi konsumen untuk memesan dan mengirimkan special gift yang unik, yang dibutuhkan adalah sesederhana tulisan tangan yang kita tuliskan di atas bola yang dipesan dan sense of humor untuk membuatnya semakin menarik dan berkesan. 
  
  • Learn from iPod
image by: fortune.com
Simplicity juga berlaku dalam desain produk. Coba kita lihat produk dan brand sukses di sekeliling kita, sebagian besar memiliki konsep design yang amat sederhana. Salah satu contoh yang sering kita temui adalah produk Apple, khususnya iPod. Saat awal diperkenalkan sebagai small music player, iPod secara original desainnya tidak lebih dari sebuah tombol, satu lingkaran dan screen (layar). iPod memiliki sesuatu yang tidak dimiliki kompetitornya yaitu: simplicity of design dan ease of use. Prinsip simplicity ini diaplikasikan pula pada produk-produk apple lainnya seperti iPad, Iphone dst. 


~ Simple ideas are also easily adaptable to changing times - and sometimes they never have to be adapted at all 




==

book that have inspired me

Be Resourceful Without Resources

01.36
Minim atau kurangnya sumber daya (resources) bukanlah alasan untuk menunda memulai sesuatu. Kita bisa belajar hal ini dari perusahaan/ brand atau start up yang berhasil, dan mereka memulainya dengan sumber daya yang terbatas. Jeff Bezos (Amazon.com), Steve Jobs (Apple), Mark Zukerberg (Facebook) adalah beberapa dari sekian entrepreneur yang memulai bisnisnya dengan resources yang terbatas. Mereka memulainya dari garasi, gudang dan kamar sebagai kantor tempat mereka membangun brand besar yang kini kita kenal. Mereka memulainya dengan tim dan staf yang terbatas, bahkan dana terbatas. Keunggulan mereka terletak pada keyakinan besar akan sumber daya (resources) yang mereka miliki, meski itu terbatas. 

~ Almost all of the successful brands, began with few resources 

Kisah keberhasilan Amazon.com, Facebook, Apple, mungkin sudah sering kita dengar. Namun, ada sesuatu yang inspiratif dan berbeda dari perjalanan entrepreneurial sebuah brand sepatu bernama TOMS, yang pernah dibagikan oleh Blake Mycoskie, founder TOMS, lewat bukunya "Start Something That Matters". Salah satu insight menarik yang akan menjadi highlight dalam tulisan kali ini adalah tentang work value nya: Be resourceful without resources!




Dari sekian usaha yang dirintis Blake Mycoskie, brand TOMS adalah satu-satunya yang paling berhasil. TOMS bukan sekedar brand sepatu seperti kebanyakan, ia punya kekuatan storytelling yang autentik dan tak sekedar mendulang profit dari sisi bisnis tapi sejak awal TOMS merupakan brand yang menunjukkan kepedulian sosialnya secara langsung di setiap penjualan produknya. 

image from: http://yanieyanson.com
Brand ini berhasil membangun sesuatu yang unique & difference, tapi juga relevan. Blake Mycoskie terinspirasi untuk memproduksi sepatu bermodel alpargata (casual canvas shoes) yang ia lihat banyak digunakan oleh orang-orang Argentina, saat ia liburan dan berkunjung ke Argentina. Hampir semua orang di kota, di desa bahkan di restoran-restoran Argentina menggunakan sepatu jenis canvas yang jarang ditemukannya di Amerika. Tapi penggerak terbesarnya untuk memulai usaha sepatu adalah ketika melihat kelompok relawan yang mengumpulkan donasi untuk kebutuhan sepatu anak-anak. Banyak anak-anak di desa-desa di Argentina yang "telanjang kaki"....tidak memiliki sepatu...dan ini berdampak pada masalah kesehatan. Ia melihat secara langsung bagaimana anak-anak tidak mengenakan alas kaki dan mudah mengalami infeksi karena tidak dapat melindungi kaki mereka. 

image from: http://toms.com
Ide awalnya adalah memulai shoe-based charity yakni amal untuk kebutuhan sepatu. Blake melihat apabila hal ini hanyalah sebuah gerakan amal, mungkin tidak akan bertahan lama dan tidak akan berdampak long-term. Sehingga muncul solusi dengan menciptakan for-profit business yang dapat membantu menyediakan kebutuhan sepatu untuk anak-anak. Sehingga tidak hanya bergantung pada donasi yang mungkin datang, tetapi membuat solusi agar ada constant flow of shoes untuk anak-anak yang membutuhkan. Dengan kata lain, solusinya adalah entrepreneurship. Konsep sederhana yang dibuatnya adalah sell a pair of shoes today, give a pair of shoes tomorrow. Setiap sepasang sepatu yang terjual, berarti akan ada sepasang sepatu untuk dibagikan pada anak-anak yang membutuhkan. Target awal dari donasi sepatu yang dilakukannya adalah untuk anak-anak di desa yang bertelanjang kaki di Argentina. Selanjutnya meluas hingga pelosok-pelosok di negara lainnya. Bisnis yang dibangunnya tak sekedar mengejar profit, tapi ia menyadari harus ada nilai bermakna yang dapat ia lakukan bagi sekelilingnya. Dan hal itu dimulainya dengan giving shoes dari setiap penjualan sepatu TOMS. Sederhana tapi bermakna. 

TOM menjadi nama dari brand sepatu besar yang kini banyak dikenal orang-orang di dunia. Dimulai dengan prinsip berbagi "TOMorrow's Shoes", brand ini  memberikan promise: "a better tomorrow!". Yang menarik adalah Blake, pendiri TOM Shoes, sama sekali tidak punya pengalaman pada bisnis sepatu sebelumnya, tidak punya koneksi pada bisnis ini. Ia memulai dengan keterbatasan resources yang dimilikinya. Ia mencari pengrajin sepatu lokal, memberikan contoh-contoh desain menarik yang menurutnya akan disukai oleh market di Amerika. Ia meyakini bahwa model sepatu yang begitu disukai masyarakat Argentina dan digunakan mereka sehari-hari ini pastilah akan menarik perhatian konsumen di Amerika karena belum pernah ada yang terpikir sebelumnya untuk "membawa" sepatu ini overseas atau ke negara lain di luar Argentina. TOMS Story ini terus dibagikan oleh Blake setiap kali ia berdiskusi dengan orang-orang maupun dengan calon mitra-nya. Sehingga story ini juga menjadi daya tarik yang autentik bagi pers dan media untuk mengangkat perjalanan brand TOMS.

Story, mission dan movement menjadi kekuatan dari brand ini. Story yang autentik dan contribute something to people in need. Blake mengakui bahwa keterbatasan resources dalam memulai TOM shoes adalah salah satu faktor keberhasilannya. Di beberapa tahun memulai TOM shoes, dana yang dimiliki sangat terbatas, jumlah staff terbatas (4 orang dan sebagian besar diantaranya adalah internship staf), ruang yang terbatas- yang digunakan sebagai kantor tempat aktivitas TOM shoes. 

~ Being comfortable can hurt your creative entrepreneurial spirit

Perusahaan yang dimulai dengan overfunded, cenderung lebih rentan dan mudah goyah daripada perusahaan yang underfunded. Mike Maples, venture capitalist di Silicon Valley, pernah menyebutkan bahwa "too much money, isn't only unnecessary, but also toxic". Salah satu contoh yakni eToys, perusahaan yang mulai dengan dana besar dan menghabiskan jumlah yang besar untuk advertising & marketing. Sayangnya tahun 2001 eToys bankrut, dan kemudian bangkit kembali dibawah kepemilikan yang baru. Sementara Amazon.com, Toys "R" Us dan Walmart berhasil memasuki online toy business dan market-nya bertumbuh luar biasa. 

Terbatasnya resources  di awal justru seringkali membuat tim bekerja sebaik mungkin dalam setiap apa yang dikerjakan. Make the best of  what you have. Keterbatasan tersebut justru membuat kita menjadi lebih bertanggungjawab terhadap waktu, staf, dana. Begitupula menjadi lebih fokus pada partnership.

~ Without resources, you will need a lot of other people's help, and the best way to get that help is to stand for something bigger than just yourself and your business.  

Jadi, jangan takut memulai sesuatu yang kamu yakini, meskipun resources terbatas. Kalau kamu saat ini sedang memulai usaha ataupun start up yang kamu impikan dan menjadi passion kamu, jangan menunggu sampai semua sempurna baru memulainya. Start now, with what you have.  You just have to make magic every day!




PH 30.01.19

*)  Be Resourceful without Resources adalah salah satu insight yang saya dapatkan saat membaca buku Start Something Matters (Blake Mycoskie). Teman-teman bisa membaca tulisan saya tentang insight menarik lainnya dari buku ini, disini:
- Find Your Story
- Keep it Simple
- Face Your Fears







Marcom & PR Corner

Kelola People sebagai Aset Berharga Perusahaan (Internal Brand Equity)

02.40
Karyawan (employee) harus dilihat sebagai aset yang berharga oleh perusahaan, apalagi oleh perusahaan/ institusi yang bergerak di sektor jasa seperti rumah sakit, universitas, asuransi dan lain-lain. Dengan kata lain employee happiness = customer happiness = company happiness. Why? Karena karyawan yang happy dan diapresiasi oleh perusahaannya, terbukti cenderung akan lebih produktif  dan lebih happy dalam melayani customer nya.

Sebagai contoh: mungkin kita sering menemui di beberapa tempat misalnya rumah sakit atau universitas, ketika kita sebagai customer bertanya pada staf disana dan direspon dengan cara yang ketus atau tidak ramah. Apa yang terjadi? sebagai customer kita punya experience yang kurang baik tentang institusi atau tempat tersebut. Walaupun tentu tidak semua karyawan di tempat itu berlaku seperti itu. Tetapi itu berdampak pada bagaimana customer akan kembali datang kesana lagi atau tidak.

Apa yang menyebabkan hal ini? Internal Brand Equity. Setiap karyawan dalam suatu lembaga/ perusahaan merupakan representasi yang punya peran penting dalam membangun brand perusahaan. Khususnya perusahaan/ lembaga yang bergerak di sektor jasa. Ekuitas yang berharga adalah personality image dari karyawannya. Sebab keputusan-keputusan yang diambil oleh customer pada sektor jasa tersebut, sebagian besar dipengaruhi oleh experience (pengalamannya) mereka saat berinteraksi dengan personil perusahaan (karyawan). Itu sebabnya perusahaan (top management & HRD) bertanggung jawab untuk membekali dan men-train karyawannya agar memiliki knowledge yang mumpuni tentang produk/ jasa perusahaan. Top management, dan founder perusahaan punya peran yang sangat penting dalam membangun corporate culture dan nilai-nilai yang menjadi identity dari elemen yang ada di dalam perusahaan. HRD punya peran signifikan untuk mengaktifkan dan mengelola nilai-nilai dan corporate culture tersebut pada setiap karyawan perusahaan. 

Ironis ketika kita melihat misalnya seorang karyawan tidak happy dengan perusahaan tempatnya bekerja karena tidak diapresiasi. Hal ini akan berdampak pada perusahaan itu sendiri. Perusahaan-perusahaan besar yang menyadari pentingnya talent-talent handal bagi perusahaannya, mencari star employee yang dapat membantu mengembangkan perusahaan dan merepresentasikan perusahaan. Namun bila star employee ini tidak dikelola dengan baik, bukan tidak mungkin mereka akan pergi dan berkarya di tempat lainnya. Sementara bagi perusahaan yang telah memiliki star employee lalu kehilangannya, tentu akan berdampak dan mempengaruhi banyak hal dalam  aktivitas perusahaan. Dengan kata lain, secara intangible perusahaan merugi bila tak mampu mengelola dengan baik human resource nya. 

Konsep service triangle menjelaskan bagaimana company membangun external marketing yakni making the promise pada konsumennya melalui 4P. Lalu bagaimana employee dan customer dalam sektor jasa terhubung untuk delivering the promise tersebut melalui interactive marketing. Dan yang tidak kalah penting, bagaimana company membangun internal marketing pada karyawannya untuk enabling the promise. (promise yang dimaksud adalah janji yang ditawarkan oleh perusahaan pada market dan konsumennya. Janji ini tentu harus dipenuhi, misal jasa dan produk berkualitas dan seterusnya. Siapa yang bertanggung jawab men-deliver promise ini? perusahaan dan karyawannya). Internal marketing dalam perusahaan harus dimulai dengan Mau dan Mampu. Mengapa? Karena top management dan HR harus mau untuk training & development karyawannya, harus diciptakan sistem apresiasi nagi karyawan. Ujungnya bermanfaat untuk long-term perusahaan.




Pada aspek company & employee inilah harus ada engaged & loyal employee serta upaya membangun internal brand equity. Kita bisa mengatakan misalnya suatu perusahaan seperti Apple atau Amazon punya karyawan yang berkualitas dan talent-talent handal. Ini juga muncul dari internal brand equity yang kuat yang dibangun oleh perusahaan tersebut. Tentu tidak terlepas dari tanggung jawab top management, HR dan kerjasama karyawan yang baik. 

Internal brand equity tak hanya bicara dari sisi marketing tetapi juga dari area HR (Human resource)  dan organizational behavior. Peran top management sangat berpengaruh. Steve Job memiliki personality yang kuat, yang nilai-nilainya diturunkan menjadi budaya organisasi/ perusahaan. Didukung oleh pengelolaan human resource yang profesional dan melihat karyawan sebagai aset, mulai dari ketika recruitment, masa kerja hingga karyawan exit dari perusahaan. 

Terkadang perusahaan begitu terfokus bagaimana memuaskan konsumen, kemudian melupakan bagaimana membangun nilai dan budaya agar karyawan juga happy. Branding tak hanya tentang mengembangkan dan mengelola produk dan jasa, tetapi juga people. 
Marcom & PR Corner

Global Branding Strategy

04.37
Pada titik tertentu, suatu brand berupaya memperluas pangsa pasar nya dan masuk ke dalam pasar internasional (international market). Untuk dapat menjadi global brand, perusahaan dan marketers harus memahami point-point yang penting untuk dipertimbangkan, agar dapat berhasil entry ke market di negara lain.

Dalam merancang dan mengimplementasikan global brand marketing program, perusahaan dan marketers perlu memahami advantages & disadvantages yang mungkin terjadi.

Keller dalam bukunya Strategic Brand Management memberikan insight bahwa terdapat 10 Commandments of Global Branding, yaitu strategi untuk dapat membangun global brands yang kuat. Saya mencoba menyajikannya dalam ilustarasi pohon berikut ini :


Sumber: Keller, Strategic Brand Management.
Infographic berupa pohon 10 commandments of global branding disusun oleh Penny H.

====

(1)  Memahami Similiarities & Differences in the Global Branding Landscape

 Panduan yang paling mendasar adalah memahami bahwa international markets dapat berbeda-beda, baik dalam hal yang terkait dengan perilaku konsumen, infrastruktur pemasaran, aturan hukum (legal), brand development dan competitive activity. Contoh terbaik dari global brands, umumnya yaitu brand mampu mempertahankan thematic consistency dan dapat memodifikasi elemen spesifik dari marketing mix-nya yang perlu disesuaikan dengan perilaku konsumen dan situasi kompetitif di setiap negara). 


Salah satu contoh: Snuggle (brand pelembut kain/ softener), produk dari Unilever. Snuggle memiliki nama yang hampir berbeda-beda di setiap negara. Mengapa? Karena perusahaan melihat pentingnya pemahaman akan similarities & differences pada landscape global branding. 

Ada asosiasi yang kuat yang konsisten dimunculkan yakni icon Teddy Bear sebagai karakter utama dalam kampanye iklan global brand ini. Karakter Teddy Bear pada brand Snuggle memiliki kesamaan persepsi di setiap negara sebagai  cerminan softness (kelembutan), dan ini terjadi karena strategi komunikasi yang dilakukan sangat efektif. Snuggle menampilkan nama yang berbeda-beda di beberapa negara untuk menyesuaikan produknya dengan local market, namun tetap ada kesamaan yakni elemen yang ditonjolkan melalui icon Teddy Bear.
Cara ini berhasil diaplikasikan oleh Unilever dalam memasarkan Snuggle, tapi perlu diingat brand lainnya mungkin punya pendekatan yang tidak sama. Dengan kata lain, belum tentu strategi yang works bagi Snuggle, bisa works juga untuk brand lainnya.


Perusahaan dan marketer perlu memahami similarity yang tetap harus dijaga dan differences yang perlu dibangun oleh global brand pada suatu market di negara yang dituju. 




(2) Don't take shortcuts in brand building
Membangun brand pada new markets harus dilakukan dari bawah ke atas (bottom up). Secara strategis berarti fokus pada upaya membangun awareness dulu, lalu kemudian brand image. Seperti halnya strategi CBBE (Customer Based Brand Equity).

Sebab memiliki brand associations yang strong, favorable & unique sangatlah penting. Karena asosiasi merupakan salah satu sources of brand equity yang kuat. Kunci penting agar berhasil adalah memahami setiap konsumen, kenali apa yang menjadi value tentang brand nya, lalu hubungkan program marketing dengan kebutuhan & keinginan konsumen.

Kellogg di Brazil

Sebagai contoh: Kellogg yakni corn flakes sebagai makanan sarapan pagi.
Marketing communication yang dilakukan Kellogg menyesuaikan dengan kultur/ budaya negara tersebut. Kellog perrnah mengedukasi konsumen Perancis bahwa corn flakes sebenarnya dimakan dengan susu dingin dibandingkan susu panas.
Berbeda halnya dengan di Brazil, cereal awalnya dimakan sebagai cemilan kering (seperti potato chips)  karena sebagian besar orang Brazil tidak sarapan sama sekali. Lalu marketer Kellogg berupaya mengedukasi konsumen di Brazil melalui kampanye iklannya, bahwa sarapan sangat penting dan Kellogg adalah pilihan terbaik. Upaya edukasi ini berhasil membuat Kellogg diterima di Brazil sebagai menu sarapan keliarga.

Di suatu kondisi, brand dapat memilih strategi untuk menyesuaikan dengan local culture ataupun brand dapat memilih untuk mengubah lifestyle & culture di market yang dituju 




(3) Establish marketing infrastructure
Keberhasilan dari banyak global brand adalah berada pada manufacturing, distribution & logistical . Perusahaan harus beradapsi dengan operasional produksi dan distribusi di negara tersebut.

Sebagai contoh: DHL yakni penyedia layanan logistik. DHL memiliki beberapa layanan, seperti DHL Express DHL Freight, DHL Express, DHL Global Mail, Masing-masing layanan ini memiliki keunggulannya, yakni ada yang berfungsi sebagai transport antar pulau, lintas dunia, distribusi domestik & internasional.

DHL - marketing infrastructure


(4) Embrace IMC (Integrated Marketing Communication)

Marketers harus dapat memanfaatkan IMC seperti sponsorship, public relations, merchandising dll demi memperkuat global brand.
Misalnya DHL lakukan IMC melalui  website nya, maupun print advertising nya. Bahkan pada campaign iklannya, DHL menonjolkan karyawannya sebagai keunggulan di setiap iklan cetak.






(5) Cultivate brand partnership
Kebanyakan global brand memiliki marketing partners dalam menjangkau international markets, baik dalam bentuk joint venture partner, franchise atau lisensi, advertising agencies, distributor dan marketing support lainnya.

 Di Australia, Coca Cola tak hanya  menjual global brand nya seperti Coke, Fanta, Sprite, tetapi juga partnership dengan local brand seperti Lift, Deep Spring & Mount Franklin.


Contoh lain misalnya: Pepsi Lipton Tea (Partnership antara Pepsi dan Unilever).
Pepsi Lipton Tea berkolaborasi meluncurkan 100% Natural Lipton Iced Tea yakni line minuman baru yang mengklaim dirinya memiliki 'natural' ingredients.
Unilever membawa brand Lipton, knowledge mengenai world class tea, dan kapabilitas R& D nya ke dalam joint venture ini.
PepsiCo kontribusi akses ke jaringan distribusi, bottling dan customer relations nya yang kuat.
Unilever memang memiliki strong presence di dveloping & emerging markets. Namun masih banyak "white space" atau area yang belum terjamah, dimana Lipton belum hadir disana. Unilever melihat bahwa peluang bisnis yang cukup signifikan bisa diraih dengan partnership bersama Pepsi yang sudah memiliki hihgh potential market di beberapa area tertentu.


(6) Balance standardization & customization 
Faktor-faktor yang memungkinkan untuk menstandarisasi program global marketing adalah bila customer needs bersifat umum (common), kebijakan dan regulasi di beberapa wilayah serupa dan menguntungkan, technical standards yang sesuai, marketing skills yang dapat di transferable. 

Salah satu implikasi dari similarities & differences pada lintas international markets adalah marketer harus mengombinasikan elemen lokal & global dalam marketing programnya. Tantangannya yaitu bagaimana menemukan right balance, untuk mengetahui elemen mana yang perlu di customise dan disesuaikan serta yang mana yang dapat distandarisasikan.

Jenis produk yang sulit dijual dengan pendekatan standardized global marketing program adalah Food & Beverages. Karena F& B cenderung berhubungan dengan tradisi, kultur bertahun-tahun yang sudah menjadi preferensi dan selera konsumen. Sehingga sulit untuk distandarisasikan secara global.

Namun demikian, beberapa produk dapat memiliki strategi global marketing yang serupa, misalnya untuk produk seperti: produk high-tech dengan functional images yang kuat (digital camera, TV, jam, komputer), produk high-image dengan asosiasi yang kuat pada fashion/ status (kosmetik, perhiasan, baju). produk layanan dan B2B (airlines, Bank), produk untuk upperclass individual (Toy's R'Us); brand yang memposisikan dirinya berdasarkan asal negara (Australian Foster Beer), dst.  

Salah satu contoh: 7 Eleven yang masuk ke market Indonesia di tahun 2009.
7 Eleven masuk ke Indonesia dengan melakukan customization yakni memposisikan dirinya sebagai tempat hang out, minum dan menggunakan wifi secara gratis. Di negara lain seperti Jepang, 7 Eleven dihadirkan sebagai supermarket untuk belanja kebutuhan saja tanpa positioning sebagai tempat nongkrong dan free wifi. Kemudian 7 eleven populer di target market usia 18-25 tahun di Indonesia. Seperti halnya di negara-negara lainnya, 7 eleven standardized produk yang dijualnya seperti kategori minuman, makanan, snack dan keperluan-keperluan sehari-hari. Khususnya minuman alkohol, hampir di semua 7 eleven di berbagai negara menjualnya.
Namun di tahun 2015 pemerintah Indonesia mengeluarkan peraturan yang melarang penjualan alkohol di minimarket. Ini  menjadi salah satu problem bagi 7 Eleven. Ditambah lagi, konsumen yang berkunjung ke 7 Eleven sebagian besar hanya hang out dan cenderung bukan konsumen yang willing to spend money. Di tahun 2017, PT Modern Tbk yang memegang franchise 7 eleven di Indonesia menutup semua stores nya. Kegagalan 7 Eleven di Indonesia bisa disebabkan oleh beberapa hal: masalah internal dan finansial organisasi, kompetisi yang kuat pada convenience store di Indonesia dimana Indomaret dan Alfamart sudah menguasai market dengan cukup kuat dan memiliki stores hampir di seluruh kota di Indonesia; tantangan regulasi ketika penjualan minuman beralkohol dilarang. Sedangkan di negara lainnya, 7 eleven cukup berhasil masuk ke market dan tidak kena regulasi minuman beralkohol.

Itulah sebabnya perlu pendekatan yang berbeda-beda bagi global brand untuk masuk ke international market. Pahami perilaku konsumen, kebijakan yang berlaku, kompetisi dan peluang yang mungkin terjadi dengan kompetitor di  wilayah tersebut. 



(7)  Balance Global & Local Control 
Umumnya, perusahaan cenderung mengadopsi: kombinasi centralization & decentralization untuk menyeimbangkan antara standarisasi local & global. Seperti yang dilakukan oleh Levis, GE dan Intel.

Salah satu contoh menarik yakni Yakult, minuman probiotic asal Jepang. Yakult sudah terjual di 38 negara di dunia, dan sebagian profitnya berasal dari luar Jepang. Yakult menggunakan strategi adaptasi karena ia memahami setiap negara punya tastes yang berbeda. Selain itu, Yakult bekerjasama dengan local manufacturer di negara tsb.

Operating model yang khas dan kreatif dari Yakult adalah Yakult Ladies. Bagi sebagian orang mungkin dilihat old fashioned di era digital marketing ini. Namun Yakult masih mempertahankan Yakult Ladies sebagai esensi dari jaringan bisnisnya. Terdapat 80,000 Yakult Ladies di dunia. Bahkan yang menarik: cara, tampilan dan pendekatan yang dilakukan Yakult Ladies di tiap negara berbeda-beda. Yakult menggunakan strategi lokal untuk menyesuaikan produknya dengan target market. 
Perhatikan bagaimana di setiap negara memiliki kekhasan yang berbeda dalam memasarkan dan mendistribusikan Yakult.


Yakult Ladies di India
Yakult Ladies di Indonesia



Yakult Ladies di Jepang



Yakult Ladies di Korea


(8) Establish Operable Guidelines
Brand guidelines (panduan brand) harus dibangun, dikomunikasikan sehingga marketers di wilayah yang berbeda dapat memiliki pemahaman yang tepat tentang apa yang diharapkan dan apa yang tidak dari brand nya. Coca Cola punya strategi yang secara jelas mengartikulasikan perusahaannya dan bagaimana positioningnya termanifest dalam berbagai elemen marketing mix nya.

Contoh: Pasta gigi Colgate, yang berhasil memasarkan produknya di berbagai negara di dunia dengan memberikan panduan guideline yang jelas. Di India misalnya, Colgate menyediakan produk dalam bentuk kemasan kecil yang dijual di toko-toko di desa di India, dengan panduan yang jelas dan modifikasi packaging yang disesuaikan dengan local market. 





(9) Implement a Global Brand Equity Measurement System
Dibutuhkan prosedur riset yang dirancang secara tepat, akurat untuk menjadi actionable information bagi marketers brand tersebut, sehingga membantu marketers di setiap wilayah dan negara untuk untuk membuat keputusan yang relevan di market yang dituju.

(10) Leverage brand elements
Brand element dapat membantu keberhasilan upaya membangun brand equity secara global, khususnya bila brand memiliki design dan impelementasi yang sesuai dari brand element nya, seperti halnya McD dengan Ronald McDonald nya, M&M's dengan maskotnya, Marlboro dengan elemen Cowboy nya.


 "Each country, market, demographic and lifestyle is different and marketers must tailor strategies to local trends" 
- (Keller, Strategic Brand Management)


No one size fits all in developing a global brand marketing strategy




Disusun oleh: Penny Hutabarat


Newer
Stories
Older
Stories

Singer-Songwriter


Indonesian singer-songwriter, Public relations, Musicpreneur.
Debut Album "Bountiful Eyes" (Itunes, Spotify, Physical CD).
-- pennyhutabarat.official@gmail.com
http://pennyhutabarat.com
--


Blog ini berbagi tentang music, life & muses, work, travel dan books.
"Whatever your Dream is, Make It Happen!"

Top Article

Waktu = Nilai Hidup, Kesempatan dan Catatan Perjalanan

W aktu adalah tentang nilai hidup.  Tentu kita mengetahui betapa pentingnya waktu, namun seringkali kita mengabaikan dan melupakannya. Ada...

Blog Archive

  • ▼  2021 (4)
    • ▼  Oktober (1)
      • The Go Giver
    • ►  April (3)
  • ►  2020 (3)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2019 (8)
    • ►  Desember (2)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (3)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2018 (14)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (4)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2017 (14)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (4)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (3)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2016 (40)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (3)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (6)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (4)
    • ►  Februari (8)
    • ►  Januari (8)
  • ►  2015 (37)
    • ►  Desember (5)
    • ►  November (4)
    • ►  Oktober (3)
    • ►  September (3)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (7)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (2)
    • ►  Maret (5)
    • ►  Februari (2)
  • ►  2014 (22)
    • ►  Desember (3)
    • ►  Agustus (4)
    • ►  Juli (3)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (6)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2013 (27)
    • ►  Desember (10)
    • ►  September (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  April (8)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2012 (5)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Maret (2)
  • ►  2011 (5)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2010 (10)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2009 (18)
    • ►  Desember (2)
    • ►  Oktober (6)
    • ►  September (3)
    • ►  Agustus (7)

trazy

trazy.com

Labels

  • Vocademia UI
  • bountiful eyes
  • buku
  • dreams
  • festival menyanyi
  • focus
  • impian
  • independent musician
  • kolaborasi
  • make it happen
  • menulis
  • mini album
  • musik
  • passion
  • perjalanan
  • seoul
  • simplicity

Instagram

Template Created By : ThemeXpose . All Rights Reserved.

Back to top