Panggung Pembelajaran

01.30

Di setiap kesempatan men-juri dalam Festival Menyanyi, saya slalu menyampaikan bahwa panggung dimana para peserta berkompetisi adalah Panggung Pembelajaran. 
"Panggung Pembelajaran" berarti peserta siap menang atau kalah, dan membawa pulang 'value' dari pelajaran yang ditemukannya di panggung itu.Panggung pada festival / kompetisi menyanyi akan memberikan berbagai pelajaran untuk mereka yang memang mau belajar, memperhatikan, mendengarkan dan membuka pikirannya untuk saran/kritik.


Saya pernah merasakan sebagai peserta yang berkompetisi dalam Festival-festival musik. Sejak usia 7 tahun 'nyemplung' ikut festival menyanyi ataupun festival bermain gitar. Tidak selalu saya menang dan berhasil membawa pulang trophy atau hadiah. Yang ingin saya bagikan di tulisan ini bukanlah tips kemenangan dan cerita-cerita prestasi tersebut. Tapi mengelola kekalahan atau kegagalan menjadi pembelajaran yang suatu hari semoga bisa kita tuai manfaatnya.

Saya juga ingin berbagi bukan tentang Lomba atau kompetisi menyanyi yang ditentukan oleh besarnya SMS dan vote, tapi Festival menyanyi konvensional yang dinilai oleh juri secara objektif berdasarkan kemampuan teknik dan materi vocal.

Tulisan ini berawal dari pertanyaan peserta yang gagal dalam Festival dimana saya berkesempatan menjadi juri. Beberapa dari mereka yang curious dan eager to learn pasti akan bertanya 'apa yang kurang dalam teknik atau penampilan saya Mbak'. Dan saya senang melihat mereka yang mau belajar dari kekalahan. 

Kita tau, bahwa dalam kompetisi pasti ada yang menang dan ada yang kalah. Mereka yang menang adalah yang memberikan penampilan terbaik dari sisi teknik&materi vocal, penguasaan lagu, dinamika&ekspresi serta attitude yang baik saat menyanyi di hadapan audience. Mereka yang belum berhasil atau kalah dalam festival tsb, bukan berarti tidak berpotensi. Mereka hanya belum memadukan ketrampilan menyanyinya dari berbagai sisi yang saya utarakan tadi. Mereka belum merasa yakin dengan talentanya.
Namun tentu basic dalam menyanyi harus dikuasai dulu seperti pitch, tempo, phrasering, hearing.
Bila basic tsb sama sekali belum dipelajari tentu itu salah satu faktor kegagalannya. 

Nah...yang ingin saya utarakan bukanlah untuk mereka yang belum menguasai basic ini. Tapi untuk mereka yang sudah ada pada level belajar menyanyi (apakah itu belajar otodidak atau kursus), dan sudah punya bekal dasar dalam menyanyi. Dengan kata lain sudah bernyanyi dengan pitch yang baik, tempo yang sesuai, phrasering yang selaras dengan lagu dan hearing yang men-support dirinya untuk menjangkau pitch pada lagu. Namun mengalami kegagalan dalam festival/ kompetisi menyanyi.

Baiklah, sekarang kita masuk ke main idea tulisan ini : bagaimana mengelola kekalahan menjadi pembelajaran yang bernilai? Bagaimana menggunakan kesempatan untuk menyanyi di hadapan  audience sebagai 'panggung pembelajaran'?

Saat kalah dalam kompetisi, tentu kita kecewa. Tapi jangan berlarut kekecewaannya. Temukan apa yang kurang dan bisa diperbaiki. Contoh : ketika SMP saya mengikuti Festival menyanyi, masuk 3 besar lalu kalah. Usai festival, saya menemui juri dan bertanya apa yang kurang? Saat itu dikatakan power nya masih kurang. Baiklah, saya pun mencatat itu dalam benak saya dan berlatih memperbaiki power menyanyi. Saya bertanya pada saudara saya yang seorang pelatih vocal, walaupun saya tidak pernah khusus kursus dengan dirinya karena lokasi tempat tinggal nya yang Jauh, tapi berkomunikasi by phone dan bertanya padanya. Lalu saya praktekkan apa yang dia sampaikan, melatihnya secara Rutin dan seiring waktu saya bisa merasakan progress nya. Orangtua dan teman juga bisa menjadi evaluator terbaik, biasanya saya menanyakan apakah sudah terdengar lebih baik dst.

Di festival lainnya, waktu usia 14 tahun berkompetisi dengan peserta lainnya yang berusia jauh di atas saya (sy menjadi peserta termuda dan terkecil saat itu), bertemu dengan seorang Juri senior : Yonas Pareira. Beliau berkecimpung di PAPPRI dan KCI. Di festival ini saya berhasil meraih Juara, tapi usai festival saya dan orangtua menemui juri berdiskusi apa yang masih perlu saya pelajari. Alhasil, beliau mendidik saya khususnya dalam teknik dinamika&ekspresi. Dan sekarang saya merasakan manfaat dari didikannya.

Di festival lainnya, saat usia 17 tahun, saya bertemu dengan peserta-peserta yang luar biasa. Lalu mendengarkan improvisasi mereka yang meliuk-liuk. Saya hanya sampai di grand final dan gagal meraih juara. Saya belajar dari salah satu juri yang kemudian menjadi mentor bermusik yang melibatkan saya dalam banyak kesempatan recording, yaitu James F Sundah. Dari kegagalan pada festival tsb, saya belajar sesuatu yang saat itu belum saya kuasai yaitu teknik falseto dengan power yang serupa dengan suara asli. Kemudian belajar 'membagi' suara (suara 2 atau 3), sambil melatih hearings. Dan yang menarik, saya juga belajar satu hal dari mentor saya tsb, bahwa improvisasi harus lah datang dari hati. Jika dirasa tak perlu dan tak muncul dari Hati, lebih baik tidak di improvisasi.

Ok, sekarang bagaimana kita melihat panggung kompetisi dan festival sebagai panggung pembelajaran. Bayangkan bahwa dirimu ada pada moment itu bukan untuk bertanding, tapi untuk memberikan yang terbaik dari yang kamu pelajari. Ini berarti jangan takut salah, jangan takut kamu kalah. Do your best! Menyanyilah tanpa beban dan natural. 
Tapi jangan pernah lewati step untuk bertanya pada mereka yang berpengalaman (apakah juri, teman yang punya pengalaman sebelumnya), tanyakan bagaimana lagu itu didengar dan dirasakan. Cara lainnya adalah koreksi diri, kita tentu punya kemampuan analysis yang membantu diri untuk melihat atau merasakan, contoh : dari raut wajah penonton yang kamu lihat, tentu kita bisa merasakan apakah lagu itu 'sampai' / pesannya ter-deliver pada mereka.

Gunakan panggung festival atau perlombaan menyanyi juga sebagai tempat untuk belajar dari peserta lainnya. Cara dan attitude peserta lainnya dalam festival perlu kita perhatikan, bukan untuk membandingkan tapi untuk menyerap apa yang baik untuk dijadikan referensi dan sesuaikan dengan karaktermu. Tak hanya itu, belajar juga dari pemusik yang mengiringi kamu. Hampir sering mereka punya ide dan komposisi menarik untuk membantu penampilanmu dalam membawakan sebuah lagu.

Setelah itu, kembali ke diri kamu sendiri. Mana pembelajaran yang positif, coba dan latihlah. Lalu praktekkan pelajaran baru itu dalam 'panggung' berikutnya, sehingga kamu bisa menguji apakah yang kamu pelajari itu sesuai atau tidak, berhasil atau tidak.

Tapi satu hal penting yang perlu kita pahami "Winning isn't everything, but Learning is'.
Jadi tersenyumlah kalau kita gagal tapi masih punya tekad untuk belajar. Suatu hari, kita akan flash back mengingat moment yang pernah dijalani dan berkata " Iya ya, kalau gw gak gagal, mungkin gw gak akan terpacu untuk belajar hal ini'.


You Might Also Like

1 komentar

  1. Subhanallah mba..kata katax sangat menyentuh...aku jd semangat mba..aku skrng dlm masa kegagalan.dan sedang down

    BalasHapus