• Home
  • Music
  • Work & Values
  • MarComm & Branding
  • Travel
  • Books

Blog Penny Hutabarat

budapest

We Love Budapest (2)

19.39


Budapest Parliament Building
Di hari berikutnya, 5 Juni 2013 kami sudah bersiap-siap sejak pagi hari menuju kantor Embassy untuk latihan (rehearsal) disana. Sejak pagi hingga siang kami melatih setiap detail untuk performance. Setelah itu, kami melanjutkan rencana jalan-jalan ke beberapa tempat lainnya. Budapest Parliament Building, ini salah satu tempat di tengah kota yang pasti akan mencuri perhatian banyak turis. Bangunannya sudah berusia lebih dari 100 tahun dan arsitektur bangunan ini membuat kita berdecak kagum seperti halnya bangunan di Eropa pada umumnya. 

Satu kata yang terbersit “magnificient” :), arsitekturnya bergaya Neo-Gothic dan ada karakter Renaissance dan Baroque juga. Budapest Parliament Building rupanya bangunan Parliament ke-3 terbesar di dunia, tinggi bangunan ini hampir sama dengan St. Stephen’s Basilicca. 


Usai berfoto dan menikmati indahnya Budapest Parliament, kami menuju Heroes Square Budapest. Dalam bahasa hungary, disebut Hosok Tere. Heroes Square merupakan salah satu bangunan tertua (thn 1896) dan dinyatakan sebagai World Heritage Site. Kalau di Jakarta, mungkin Heroes Square ini seperti Monas nya hehe..tapi bedanya bangunan di Budapest ini terlihat lebih tertata dan bersih apik :). 
Heroes Square
Di Heroes Square akan banyak kita menemui para turis berfoto-foto, dimana ada beberapa statue disana dan salah satunya Millenium Monument. Keindahan heroes Square semakin lengkap dengan dua bangunan yang mengapitnya yaitu Museum of Fine Arts dan Palace of Art.


Museum of Fine Arts


Millenium Monument
Di malam hari, saya dan tim Vocedemia berwisata sambil jalan kaki beramai-ramai dari Hotel menuju ke pusat keramaian di City Centre. Huaaa...banyak tempat di setiap sudut Budapest yang memanjakan mata kami, beberapa tempat sepanjang langkah kaki di malam itu diantaranya : 



-  

-          

   a) State Opera House. Sayangnyaa...kami tak sempat masuk ke dalam Opera House dan menyaksikan salah satu performance disana, pastilah bagian dalam dari gedung yang bergaya Neo-Renaissance ini mengagumkan.



    
b) St.Stephen Basilicca. Di malam kami berkeliling ini, hanya sempat melewati bagian belakang bangunan St. Stephen Basilicca. Sempat terlintas “Waa..ini baru tampak belakang saja sudah indah, apalagi depan dan dalam bangunan ini”. Di hari terakhir trip kami di Budapest, saya dan 2 orang teman menyempatkan diri meng-eksplore St. Stephen Basilicca. Ulasan khusus tentang St. Stephen Basilicca saya sajikan di sini karena tempat ini paling istimewa di hati saya saat mengunjunginya.



c) Chain Bridge & Parliament Building 


Chain Bridge at NIGHT
-                                                                


  Hari ke-3 di Budapest, tanggal 6 Juni 2013, tepatnya 1 hari sebelum kami akan bergerilya perform dalam rangkaian acara Misi Budaya Indonesia......kami masih menyempatkan diri untuk berjalan-jalan. Hihi..betul-betul memanfaatkan waktu dengan baik karena sangat banyak tempat-tempat ciamikk nan cantik di Budapest ini dan sayang bila dilewatkan :). Pagi hari pukul 07.00 waktu Budapest, saya dan beberapa anggota Vocademia (Melyna, Ismunandar, Ronald, Levi, Zainun, Rama) menikmati udara pagi Vocademia sambil berjalan kaki. Kami mulai mengenali arah jalan dari hotel menuju ke beberapa pusat keramaian. Saat jalan pagi di wilayah Dohany Street, kami menemukan satu bangunan megah dan arsitekturnya terlihat rumit tapi indah, yaitu The Great Synagogue. 






Ya, ini adalah Synagogue tempat ibadah orang Yahudi dan terdapat Hungarian Jewish Museum juga di tempat yang sama. Kami hanya berfoto-foto di depan gedung ini hehe karena terlihat petugas pengamanannya cukup ketat bila kami ingin masuk. Di dekat Synagogue, ada satu taman yang cukup nyaman dimana kami duduk-duduk di bangku taman cukup lama disana sambil beberapa kali merekam semacam video clip lagu. 


Setelah mengunjungi Synagogue, kami sarapan di Burger King dan melanjutkan perjalanan kembali ke Hotel. Sesampainya di hotel, tim Vocademia langsung menuju kantor Embassy dan venue acara (Millenaris Park) untuk Gladiresik terakhir serta Sound-Check sebelum performance tanggal 7 & 8 Juni. Oia, satu hal yang sangat berkesan yaitu kami bertemu dengan salah seorang staf Embassy yang sangat ramah, baik hati dan sabar. Beliau kami sapa dengan Pak Chris :) yang membawa kami berkeliling jalan-jalan dengan mobil Embassy dan mengantar jemput kami untuk latihan juga perform. Sangat berkesan karena orangnya humble dan helpful sekali, bahkan beliau juga banyak menjelaskan seluk-beluk Hungary pada kami. 


Tiba di Embassy, sejak jam makan siang hingga larut malam kami melakukan Gladiresik (last rehearsal) di embassy office. Kami berlatih menyanyi dan koreografi untuk setiap lagu daerah yang kami bawakan. Malam hari setibanya di hotel, sempat kami berkunjung sejenak ke New York Cafe dan Alcatraz, yang letaknya tidak jauh dari hotel untuk mencari makan malam dan berdiskusi persiapan tampil esok harinya. 


Catatan Perjalanan (lanjutan) :
# We Love Budapest (1)
# We Love Budapest (3)
# We Love Budapest (4) 
budapest

We Love Budapest (1)

01.40
Chai
Akhirnya baru sekarang saya berkesempatan menulis catatan perjalanan saat ke Hungary (Budapest) pada Juni 2013 lalu. Sekembalinya dari Hungary, ingin sekali berbagi cerita tentang keindahan Hungary lewat blog post ini. Saya bersama 12 orang tim Vocademia (Vocalista Academia) dari Universitas Indonesia melakukan kegiatan Misi Budaya ke Hungary selama 10 hari. Sekitar 3-4 bulan sebelumnya, kami telah mempersiapkan diri untuk rangkaian performance Misi Budaya di Hungary ini.


Perjalanan kami dimulai tanggal 3 Juni 2013, kami berangkat pukul 23.30 (yaa..sudah nyaris tanggal 4 Juni sich sebenarnya J)) dari Bandara Soekarno-Hatta, transit di Doha dan menuju Budapest dengan Qatar Airways. Untungnya kami berangkat tengah malam, jadi tidak terasa waktu sekitar 6 jam perjalanan dari Jakarta ke Doha. Transit 3 jam di Doha, kami sempat keliling di Hamad International Airport Doha dan kemudian melanjutkan perjalanan ke Budapest selama sekitar 8 – 10 jam perjalanan.
Tibalah saya dan tim Vocademia di Budapest tanggal 4 Juni 2013. Ini adalah foto pertama setibanya di Budapest (ibukota Hungary).


photo by Yugo Isal


Embassy of the Republic of Indonesia in Hungary

Cuaca di Budapest saat itu cukup dingin walaupun sudah mulai memasuki musim panas (summer). Di International Airport Budapest, kami dijemput oleh Staf Kedutaan Besar Indonesia di Hungary dan kami langsung dibawa menuju Embassy yang berlokasi di Varosligeti, Budapest.

Embassy Indonesia di Hungary cukup nyaman dan menyenangkan, apalagi ada piano di ruang tamu kantor kedutaan. Tim Vocademia yang terdiri dari penyanyi dan musisi tentu saja tidak bisa melewatkan moment untuk menyanyi ketika melihat ada piano disana. Pianis kami, Melyna Purba dan Ronald Wilson pun langsung mendentingkan tuts-tuts piano sambil kami berlatih lagu-lagu untuk performance Misi Budaya. 
Kami kemudian bertemu dengan Bpk. Maruli Tua Sagala (Duta Besar Indonesia untuk Hungary). Di awal pertemuan, kami didaulat untuk menyanyi 2 lagu (informal) dengan iringan piano sambil bersantai dan rileks sejenak setibanya kami di Budapest.  Staf Embassy kebetulan saat itu masih berkumpul di kedutaan karena agenda meeting, sehingga mereka juga turut menyaksikan dan saling berkenalan dengan tim Vocademia. 

Citadella
Kami tidak ingin melewatkan waktu untuk menikmati Hungary, khususnya Budapest. Keindahan Budapest sudah terlihat mempesona sejak pertama kami tiba menginjakkan kaki dan dalam perjalanan dari airport menuju Embassy. Jadi, usai pertemuan di Embassy kami langsung diantar ke Hotel untuk meletakkan koper & barang bawaan. Lalu langsung jalan-jalan menuju tempat yang dipandu oleh Staf Embassy yang mendampingi kami. Tempat wisata pertama yang kami kunjungi adalah Citadella Budapest. Kami mengunjungi tempat ini siang hari dan cuaca cukup dingin, juga hujan. Apalagi letaknya yang di atas bukit, dengan pemandangan kota Budapest yang terlihat jelas dan indah dari lokasi Citadella yang tinggi ini.

Selanjutnya kami dibawa menuju Buda Castle, this was  the residence of Hungarian Kings.  Di tempat ini, kami mendapati bangunan-bangunan bergaya Gothic yang sungguh sangat indah dan memukau. Di tempat ini juga terdapat gereja yang merupakan main church dari Buda Castle yaitu St. Matthias Church. Matthias adalah salah satu raja Hungary yang memerintah di tahun 1400-an. 
St. Matthias Church

St. Matthias Church



 
Berdekatan dengan St. Matthias Church, ada satu bangunan yang mencuri perhatian kami karena bentuknya yang sepeti kastil di dongeng-dongeng :) nama bangunan ini adalah Fisherman’s Bastion.
Bastion ternyata salah satu tempat terbaik yang menjadi tujuan para turis di kota Budapest. Dari tempat kami berdiri di Fisherman’s Bastion yang seperti kastil ini, pengunjung dapat melihat Danube River, Parliament Building Budapest yang sangat megah dan Chain Bridge. 
 





Diantara Matthias Church dan Fisherman’s Bastion, berdiri patung seseorang yang menunggangi kuda dan dia adalah statue of St. Stephen (the first christian king of Hungary). Kami menghabiskan waktu 3-4 jam di Buda Castle district ini karena begitu banyak tempat yang bisa di eksplore dan penuh dengan keindahan pada setiap sudut dan bentuk bangunannya. 

Selama perjalanan kami mengelilingi Budapest, ada 3 jembatan besar yang beberapa kali kami lalui . Jembatan itu antara lain : Chain Bridge, Liberty Bridge dan Elisabeth Bridge. Chain Bridge Budapest membentang di atas Danube River dan menjadi penghubung antara kota Buda dan Pest (sisi barat dan timur dari Budapest).  Liberty Bridge Budapest adalah public road bridge yang terletak di bagian ujung selatan dari City Centre. Elisabeth Bridge Budapest termasuk jembatan baru di Budapest dan letaknya masih di area Danube River. Ternyata masih ada beberapa bridge lainnya di Budapest, namun tak sering kami lalui yaitu Megyeri Bridge, North Rail Bridge, Arpad Bridge, Margareth Bridge, Petofi Bridge, dan South Rail Bridge. 
Chain Bridge
Liberty Bridge

















Elisabeth Bridge


Catatan Perjalanan (lanjutan) :
# We Love Budapest (2)
# We Love Budapest (3)
# We Love Budapest (4) 


business and management

The 8th ICBMR (1) Preparation Time

18.35

ICBMR (International Conference on Business & Management Research) diselenggarakan untuk yang ke-8 kalinya di Seoul, South Korea. Konferensi Internasional ini diselenggarakan oleh Fakultas Ekonomi UI dan Sungkyunkwan University, Seoul. Berbagai makalah ilmiah di bidang ekonomi (financial, marketing, strategic, business) dipresentasikan dalam kesempatan ini. Makalah penelitian saya yang membahas mengenai Art Sponsorship dan Entertainment Marketing berhasil lolos dalam tahap review oleh ICBMR’s committee. Dan waktunya untuk di presentasikan pada audience yang berasal dari berbagai universitas di Asia dalam conference ICBMR yang ke-8 ini. 

 Flash back mengenai persiapan makalah (paper) untuk The 8th ICBMR 2013 :  

* Paper yang saya submit dan ajukan ke International Conference ini adalah penelitian thesis saya pada tahun 2012 di Magister Science Management. Di tahun 2012, saat saya presentasi dalam Sidang Thesis sebagai syarat kelulusan program Master, saya ingat sekali saat itu Dr. Adi Zakaria Afiff menyampaikan agar penelitian saya jangan berhenti sampai disitu. Ia meng-encourage saya untuk mencoba ikut dan mendaftarkan makalah (paper) penelitian saya ke ICBMR Conference dan kemudian diharapkan tulisan saya dapat di publikasi di salah satu Jurnal internasional. Itu adalah pertama kali saya mengenal event dan nama ICBMR (International Conference on Business & Management Research).

Kemudian pembimbing saya yang sangat luar biasa  :)  Gita Gayatri, PhD mendorong  saya untuk mengikuti saran Pak Adi tsb agar makalah penelitian ini dapat dipublikasikan ke dalam jurnal dan sebelumnya dipresentasikan lebih dulu pada international conference. Tahun 2012, saya dan bu Gita berencana untuk turut serta dalam ICBMR yang diselenggarakan di Vietnam. Namun tahun lalu niat kami untuk men-submit paper harus tertunda karena kondisi saya yang sedang sakit di saat itu.   

* Di April 2013, suddenly saya menerima message dari Bu Gita yang menanyakan apakah saya masih berminat dan tertarik untuk mendaftarkan makalah saya ke ICBMR yang akan diselenggarakan November 2013 di Seoul Korea. Dan saya mulai mempertimbangkannya saat itu, terutama masalah biaya untuk perjalanan mengikuti conference ini. Tapi dalam hati kecil, saya yakin ‘dimana ada niat, disana ada jalan’ :).

Lalu saya dan bu Gita mulai berkolaborasi mempersiapkan penelitian thesis tersebut untuk disajikan dalam bahasa inggris dengan format jurnal yang layak publikasi. Makalah penelitian tsb bukan lagi paper saya, tetapi paper kami berdua yakni saya dan Gita Gayatri, Ph.D. Saya cukup salut, di tengah kesibukannya, Bu Gita yang saat ini mengajar di University of Malaya masih menyediakan waktunya untuk mengoreksi dan mereview paper yang kami ajukan ke ICBMR.

*Tadda, good news! Di Juni 2013, kami menerima kabar dari ICBMR committee bahwa paper kami lolos dan diterima di International Conference on Business & management Research (ICBMR) dan untuk selanjutnya kami dapat melakukan oral presentation di Seoul. Tentunya senang mendengar kabarnya, tapi di satu sisi agak khawatir dan ragu karena biaya untuk perjalanan menuju ke tempat conference tentulah harus dipersiapkan dengan matang. Kebetulan di awal Juli 2013, saya bersama rombongan melakukan Misi Budaya ke Hungaria sehingga progress untuk saya mengajukan dana hibah (grant) untuk bantuan conference luar negeri sempat tertunda saat itu. 

Sekembalinya dari Hungaria, saya segera mempersiapkan berkas dan surat-surat untuk pengajuan grant bantuan conference luar negeri. Dan ternyata sulit nya minta ampun hehe...tak hanya urusan birokrasinya tetapi juga banyaknya syarat ini itu yang membuat saya sempat mengurungkan niat untuk presentasi di conference ini. Bahkan salah satu surat pengajuan saya ke kantor saat itu sempat ditolak karena alasan bla bla bla :).
Tapi tidak berhenti sampai disitu, rupanya penolakan itu malah mendorong saya untuk berusaha mengurus surat pengajuan grant saya dengan alternatif lainnya. Saya bertemu dan berdiskusi dengan beberapa rekan juga kerabat untuk meminta masukan dan rekomendasi mengenai bantuan grant tsb. Akhirnya 3 minggu sebelum tanggal keberangkatan ke Seoul, seluruh berkas-berkas grant yang saya ajukan telah di terima oleh Direktorat Riset di UI.  And my heartfelt thanks kepada Prof. Bambang Wibawarta, Dr. Lily Tjahyandari (FIB UI) yang men-support keikutsertaan saya di ICBMR conference ini.
Dan juga my gratitude kepada Dr. Arie Soesilo yang juga men-support keikutsertaan saya untuk presentasi di conference ICBMR dengan bantuan dari Direktorat Alumni.

Lesson learned : To be rejected is not a failure and should not be treated so. This is not to say you should give up trying to achieve your goals but in fact you should continue to try with the new understanding that you now have from the lesson learnt.  

-  * Perjuangan belum berhenti hehee. Sementara proses pengajuan bantuan (grant) saya lakukan, saya dan bu gita berkomunikasi secara intens by email untuk menyiapkan paper kami, mengoreksi setiap detailnya, me-revisi beberapa point, dan menyiapkan slide PPT untuk presentasi kami di ICBMR. Satu hal yang tidak terlupa adalah dalam persiapan conference ini, hehe saya sampai rutin berlatih presentasi di 2 minggu sebelum jadwal keberangkatan. Dan latihan presentasi itu tak hanya saya sendiri, tapi saya membuat simulasi bersama teman jadi seolah saya sedang mempresentasikannya langsung dalam conference tsb J. Untuk persiapan yang satu ini, saya harus terima kasih untuk my best friend Erni Adelina yang siap membantu dengan senang hati.
Urusan perjalanan juga tidak ketinggalan harus disiapkan satu demi satu : baik visa, tiket, mencari informasi untuk rekomendasi hotel, reservasi, perlengkapan untuk cuaca dingin selama di Seoul dan bermacam printilan penting lainnya yang perlu disiapkan segera J.

Finally, paper + slide presentasi beres di satu hari sebelum jadwal keberangkatan ke Seoul. Dan berbagai urusan lainnya, Puji Tuhan berjalan lancar. So, waktunya saya berangkat bersama ibu di 5 November untuk perjalanan kami ke Seoul, Korea. Tak hanya Conference tentunya, tapi kami juga berusaha menggunakan moment ini untuk menikmati dan meng-eksplore Korea. 
business and management

The 8th ICBMR (2) Presentation Time

18.27


Yiayy!! I feel excited and little bit nervous. Ini adalah pengalaman pertama saya presentasi di International Conference untuk mempresentasikan hasil riset/ makalah penelitian. Saya bersyukur dengan kesempatan ini karena mendorong saya untuk belajar banyak hal. 
Setelah preparation time beberapa bulan, akhirnya 7 November 2013 Penny Hutabarat, MSM dan Gita Gayatri, PhD mempresentasikan riset nya di The 8th ICBMR (International Conference on Business & Management Research) 2013 di Seoul, 
tepatnya di Sungkyunkwan University.

Jadwal presentasi saya & mrs. Gita berlangsung di pukul 15.00 waktu Seoul. Mulai pukul 12.00 saya sudah tiba di Hall tempat berlangsungnya conference ICBMR untuk lunch bersama para peserta conference dan mengikuti Plennary Speech oleh beberapa Keynote Speakers dari pukul 13.00 – 14.30. Hampir 1 tahun setelah sidang thesis saya tidak bertemu bu Gita dan kami hanya berkomunikasi dan berkolaborasi untuk paper ini melalui email. Hal pertama setibanya di venue conference, saya langsung mencari beliau dan senangnya bisa bertemu untuk kami presentasi bersama di hari itu. Saat bertemu kami masih membahas materi paper yang akan dipresentasikan hehe maklum sepertinya kami berdua sama-sama orang yang detail dan perfeksionis hihi.

Tibalah waktu presentasi. Dan yaa..saya deg-deg an, sampai sempat terlintas “wah..rasanya mending gw disuruh nyanyi dech, daripada presentasi riset/ penelitian deg-degan nya lebih luar biasa”:). Saya berdoa dalam hati dan oke saya siap presentasi dengan tenang dan fokus.
Part awal dari paper kami dipresentasikan oleh saya, lalu part berikutnya dipresentasikan oleh mrs. Gita. Usai presentasi, beberapa pertanyaan dari audience berhasil kami jawab bersama dan presentasi berjalan dengan sangat lancar.

Lesson learned : Terkadang atau mungkin seringkali..kita meragukan kemampuan dan talenta diri. Padahal Tuhan telah memberikan talenta dan memperlengkapi kita untuk mampu mengerjakan tugas-tugas kita. So...di setiap kesempatan, jangan ragu dan takut selama kita sudah mempersiapkan apa yang menjadi bagian kita dan berupaya yang terbaik. There are saying “God will answer our prayers..If we do our part!”.

Setelah presentasi selesai, saya mengobrol santai dengan bu gita dan saya ingat kira-kira dia mengatakan ke saya “janji saya sudah tercapai ya mba, tahun 2012 lalu kan rencana kita tertunda. Dan sekarang sudah terwujud!”.
I’m so grateful, atas kesempatan yang Tuhan anugerahkan dan juga pembimbing serta partner yang smart, sabar &baik hati seperti mrs. Gita :). Mission Accomplished!



Newer
Stories
Older
Stories

Singer-Songwriter


Indonesian singer-songwriter, Public relations, Musicpreneur.
Debut Album "Bountiful Eyes" (Itunes, Spotify, Physical CD).
-- pennyhutabarat.official@gmail.com
http://pennyhutabarat.com
--


Blog ini berbagi tentang music, life & muses, work, travel dan books.
"Whatever your Dream is, Make It Happen!"

Top Article

Waktu = Nilai Hidup, Kesempatan dan Catatan Perjalanan

W aktu adalah tentang nilai hidup.  Tentu kita mengetahui betapa pentingnya waktu, namun seringkali kita mengabaikan dan melupakannya. Ada...

Blog Archive

  • ▼  2021 (4)
    • ▼  Oktober (1)
      • The Go Giver
    • ►  April (3)
  • ►  2020 (3)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2019 (8)
    • ►  Desember (2)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (3)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2018 (14)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (4)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2017 (14)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (4)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (3)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2016 (40)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (3)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (6)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (4)
    • ►  Februari (8)
    • ►  Januari (8)
  • ►  2015 (37)
    • ►  Desember (5)
    • ►  November (4)
    • ►  Oktober (3)
    • ►  September (3)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (7)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (2)
    • ►  Maret (5)
    • ►  Februari (2)
  • ►  2014 (22)
    • ►  Desember (3)
    • ►  Agustus (4)
    • ►  Juli (3)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (6)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2013 (27)
    • ►  Desember (10)
    • ►  September (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  April (8)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2012 (5)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Maret (2)
  • ►  2011 (5)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2010 (10)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2009 (18)
    • ►  Desember (2)
    • ►  Oktober (6)
    • ►  September (3)
    • ►  Agustus (7)

trazy

trazy.com

Labels

  • Vocademia UI
  • bountiful eyes
  • buku
  • dreams
  • festival menyanyi
  • focus
  • impian
  • independent musician
  • kolaborasi
  • make it happen
  • menulis
  • mini album
  • musik
  • passion
  • perjalanan
  • seoul
  • simplicity

Instagram

Template Created By : ThemeXpose . All Rights Reserved.

Back to top